BERITABANGSA.ID, MALANG – Aktivis sosial, Inayah Wahid, menegaskan saat ini Indonesia sedang gelap. Indonesia menghadapi persoalan di segala lini. Mulai dari persoalan penegakan hukum, maraknya korupsi, kerusakan lingkungan, hingga kesenjangan ekonomi. Karena itu, lanjut Inayah, dia pesimistis Indonesia Emas 2045 bisa tercapai.
“Sulit bilang terang 2045 akan punya Indonesia Emas. Emasnya saja tidak kelihatan,” ujarnya.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Inayah mendorong masyarakat sipil tetap konsisten menyalakan lilin di tengah kegelapan dengan cara bersolidaritas dan menjaga nilai-nilai demokrasi.
“Saya tahu itu tidak mudah, pasti capek. Kalau capek, istirahat tapi jangan berhenti. Saat ini mungkin masih kecil, tapi nanti akan membesar selama kita tidak menyerah,” ujarnya.
Sebagai anak muda, Inayah menambahkan, dirinya malu apabila berhenti bersolidaritas karena ibunya, Sinta Nuriyah yang berusia 77 tahun, masih menjaga nilai demokrasi dengan bergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa. Pada 23 September lalu, Sinta Nuriyah bersama GNB menyambangi Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya untuk meminta polisi membebaskan demonstran yang ditahan usai demonstrasi Agustus 2025.
Demikian diungkapkn Inayah Wahid, dalam ajang reuni dan seminar nasional forum alumni aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) di Auditorium Universitas Brawijaya, Malang, pada Sabtu, 25 Oktober 2025.
Dalam reuni kali ini, FAA PPMI mengusung tema “Oase Gelap Terang Indonesia” sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi Indonesia saat ini.
Sejumlah tokoh seperti Rektor Universitas Brawijaya Profesor Widodo, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, Pakar Hukum Tata Negara Bivitri Susanti, dan Aktivis Sosial Inayah Wahid hadir.
Widodo, dalam pidato pembukaan acara ini mengakui, Indonesia sekarang masih menghadapi banyak persoalan. Salah satunya adalah kesenjangan sosial dan ekonomi.
Menurut dia, rata-rata pertumbuhan ekonomi 5 persen tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. “Selain itu penduduk miskin masih banyak, sehingga muncul pertanyaan, siapa yang paling menikmati pertumbuhan ekonomi ini?” katanya.
Di sisi lain, Widodo mengatakan hanya 13 persen penduduk Indonesia yang lulus dari perguruan tinggi. Padahal, di negara maju lulusan perguruan tinggi bisa mencapai 40-50 persen. “Ketika pertumbuhan ekonomi tidak diiringi kualitas sumber daya manusia maka kesenjangan ekonomi dan sosial semakin lebar,” ujarnya.
Menurut Widodo, animo masyarakat Indonesia terhadap pendidikan tinggi sebenarnya besar. Indonesia juga memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi. Tetapi lulusan SMA yang melanjutkan studi baru sekitar 30 persen. “Hambatan biaya dan pola pikir masih menjadi faktor utama penyebabnya,” ujarnya.
Rendahnya tingkat pendidikan tersebut, lanjut Widodo, menyebabkan rendahnya kapasitas inovasi nasional. “Termasuk daya kewirausahaan yang hanya sekitar 3 persen dari populasi, padahal negara maju berada di atas 10 persen,” ujarnya.
Akibatnya, kontribusi industri teknologi terhadap perekonomian juga rendah. Sumber daya alam yang melimpah pun belum memberikan nilai tambah signifikan.


















