BERITABANGSA.ID, SIDOARJO – Jam enam pagi itu, udara di Sidoarjo masih dingin. Sisa debu bangunan yang ambruk semalam belum sepenuhnya turun ke tanah. Di antara bau semen, karat, dan keringat para relawan, terdengar kabar lirih:
> “Ada satu anak masih hidup…”
Namanya Syahlendra Haikal, 13 tahun, santri Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Tubuhnya kecil, tapi kisahnya melampaui ukuran manusia biasa. Ia ditemukan setelah tiga hari terjebak di bawah reruntuhan musala pesantren yang ambruk pascagempa ringan yang mengguncang kawasan itu.
Tiga hari.
Di tempat yang gelap, pengap, dan basah darah dua sahabatnya yang telah tiada.
Namun di sana, Haikal tidak menangis, tidak menjerit, tidak menyerah.
Ia hanya berbisik pelan kepada sahabatnya yang masih bernyawa,
> “Ayo salat. Waktunya Isya.”
Dan ketika sahabatnya bertanya lirih,
> “Siapa yang jadi imam?”
Haikal tak sempat menjawab. Karena di sela debu dan beton, ada suara azan entah dari penyintas lain, entah hanya gema dari hatinya. Ia pun menegakkan salat di bawah reruntuhan, berjamaah dengan suara yang mungkin hanya ia dengar sendiri.
Pagi menjelang tanpa cahaya. Ia kembali menepuk bahu sahabatnya untuk salat Subuh. Tapi kali ini, tak ada jawaban. Hanya keheningan panjang.
Haikal tahu, sahabatnya sudah berpulang.
Saat petugas akhirnya menemukan Haikal, ia dalam keadaan lemah. Di sebelahnya ada dua botol air mineral utuh.
Ketika ditanya mengapa tidak diminum, jawabannya sederhana tapi membuat para relawan menangis:
> “Itu bukan hak saya.”
Ia memilih lapar dan haus, tapi tidak mau mengambil yang bukan miliknya.
Tubuhnya rusak, tapi nuraninya utuh.
Ibunya, Dwi Ajeng, menuturkan dengan air mata:
> “Katanya dia haus sekali, lalu ada anak kecil datang kasih minum. Setelah itu dia tidur, pas bangun anak kecilnya sudah nggak ada. Saya merinding dengarnya.”
Mungkin itu pertolongan gaib.
Mungkin juga hanya mimpi seorang anak yang nyaris mati.
Tapi apa pun itu, ada cahaya yang menuntunnya bertahan.
Di rumah sakit RSUD R.T. Notopuro, dokter akhirnya memutuskan mengamputasi kakinya untuk mencegah infeksi. Operasi berlangsung dini hari.
Saat sadar, Haikal hanya berkata:
> “Yang penting saya masih bisa salat.”
Tidak ada tangisan. Tidak ada protes.
Seorang bocah 13 tahun yang kehilangan kakinya justru memberi pelajaran tentang syukur dan keteguhan iman kepada orang dewasa di sekitarnya.
Para perawat menunduk. Dokter terdiam. Relawan menangis diam-diam di lorong rumah sakit.
Hari ini, Haikal masih terbaring di ruang perawatan, dengan senyum tipis dan tatapan tenang.
Tubuhnya mungkin lemah, tapi semangatnya lebih kuat dari beton yang pernah menimpanya.
Ia bukan hanya penyintas. Ia pengingat, bahwa pendidikan iman bukan tentang seragam putih dan kitab tebal melainkan tentang bagaimana hati bertahan ketika semua runtuh.
Di tengah hiruk-pikuk negeri yang sering kehilangan arah, di antara pejabat yang sibuk menimbun kekuasaan dan rakyat yang sibuk mencari harapan, datanglah Haikal bocah tanpa kaki yang justru mengajarkan bagaimana cara berdiri.
Karena ternyata, berdiri tak butuh kaki.
Yang dibutuhkan hanyalah iman yang tegak.
Dan di bawah reruntuhan dunia yang makin bising, Haikal telah menegakkannya tepat jam enam teng.
(Berdasar laporan lapangan dan data terkini dari Posko Relawan Al Khoziny, RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, dan kesaksian keluarga korban. Kisah ini nyata, bukan karangan. Hanya iman yang membuatnya terasa seperti mukjizat.)
catatan tangan kanan
wiedmust-061025
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















