Meski berusia di atas 50 tahun, mereka tetap berhasil meraih gelar sarjana maupun profesi.
Anastasia, wisudawan asal Denpasar, mengakui sempat ragu karena perbedaan keyakinan.
Namun, ia justru menemukan kenyamanan. “Saya mendapat banyak pelajaran tentang toleransi. Saat mata kuliah Aswaja, saya belajar banyak tentang kebaikan dari teman-teman muslim,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan Woro Siswanto. Ia merasa diterima dengan hangat tanpa perbedaan perlakuan. “Semua berjalan penuh toleransi dan persaudaraan. Saya justru merasa nyaman kuliah di sini,” katanya.
Sementara itu, Nur Kholis, wisudawan tertua, menekankan pentingnya belajar meski usia tidak lagi muda.
“Ilmu keperawatan terus berkembang. Kalau tidak mendalami, kita bisa tertinggal. Alhamdulillah, darah daging saya sejak awal ada di keperawatan. Dari SPK tahun 1994, lanjut diploma, hingga S1 dan Ners di Unusa,” ungkap pria yang kini bertugas di Puskesmas Kedurus, Surabaya.
Wisuda kali ini juga menghadirkan kisah unik. Seorang wisudawan sekaligus tampil sebagai qori, yakni Langga Pratama Putra, lulusan S1 Manajemen program RPL.
Langga, yang kini bekerja di PT PLN Nusantara Power, sebelumnya pernah meraih juara pertama MTQ remaja Jawa Timur dan mewakili provinsi dalam MTQ Nasional di Lombok.
Meski sibuk bekerja, Langga tetap melanjutkan pendidikan untuk menunjang kariernya.
“Saya tidak banyak bercerita kalau kuliah sambil bekerja. Tapi materi kuliah sangat bermanfaat. Saya menangani kontrak dengan pihak ketiga, dan ilmu yang diperoleh benar-benar membantu,” jelas pria kelahiran Sidoarjo, 23 November 2000, yang lulus dengan IPK 3,7.
Wisuda Unusa 2025 pun bukan sekadar seremoni akademik, melainkan panggung yang merekam jejak kepemimpinan, keberagaman, serta kisah inspiratif para lulusan.
Sebuah perayaan ilmu yang meninggalkan kesan emosional sekaligus memperkuat citra Unusa sebagai kampus rahmatan lil alamin.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















