Profil

Kisah Lala, Anak Petani Manggarai Barat Raih Beasiswa Kuliah di Unusa

17
×

Kisah Lala, Anak Petani Manggarai Barat Raih Beasiswa Kuliah di Unusa

Sebarkan artikel ini
Lala
Maria Goreti Laura Saina, mahasiswi unusa peraih KIP-K.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Perjalanan Maria Goreti Laura Saina atau Lala, mahasiswi baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) 2025, menjadi bukti tekad dan doa orang tua mampu mengantarkan anak ke pendidikan tinggi.

Gadis asal Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, ini resmi diterima di Program Studi Gizi Unusa melalui beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).

Lala adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang petani yang sesekali bekerja serabutan membantu warga membangun rumah, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Dengan penghasilan keluarga yang tidak lebih dari Rp500.000,00 per bulan, kedua orang tuanya tetap berjuang keras agar anak-anak mereka bisa melanjutkan sekolah.

“Motivasi terbesar saya adalah bapak dan mamak. Mereka hanya lulusan SD, tapi tidak pernah menyerah agar anak-anaknya bisa sekolah. Saya ingin jadi sarjana pertama di keluarga,” ujar Lala, berbinar.

Sejak SMP hingga SMA, Lala harus menempuh pendidikan di Labuan Bajo. Jarak dari rumah membuatnya tinggal bersama saudara.

Setiap hari ia berjalan kaki sekitar 30 menit untuk menuju sekolah. Keputusan bersekolah di Bajo diambil karena biaya pendidikan lebih terjangkau bagi kondisi ekonomi keluarganya.

Sejak kecil, Lala bercita-cita menjadi dokter. Namun memasuki SMP, ia mulai realistis melihat kondisi ekonomi keluarga. Cita-cita itu bergeser menjadi apoteker. Ia sempat mencoba masuk perguruan tinggi lewat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) pada tahun terakhir SMA, namun tidak lolos.

“Dulu pengennya jadi dokter, lalu berubah ingin jadi apoteker. Pas kelas 3 SMA ikut SNBP, tapi ternyata gagal. Sempat putus asa dan ingin menyerah,” kenangnya.

Kabar dari kakaknya membuat Lala menyadari bahwa biaya kuliah farmasi cukup tinggi.

Saat itulah ia menemukan informasi mengenai Unusa dan beasiswa KIPK. Meski sempat ragu karena kampus ini mayoritas mahasiswanya muslim, Lala tetap mendaftar.

Bahkan, cibiran dari orang sekitar yang meremehkan pilihannya tidak membuatnya gentar.

“Beberapa orang sempat bilang saya tidak mungkin diterima karena Unusa banyak mahasiswanya muslim. Tapi semua itu terbantahkan, saya bisa jadi bagian dari Unusa,” tuturnya.

Perjalanan masuk Unusa tidak mudah. Awalnya Lala mendaftar ke jurusan keperawatan dan kebidanan, namun tidak memenuhi persyaratan tinggi badan.

Ia lalu disarankan memilih Analis Kesehatan atau Gizi. Atas dorongan orang tua, akhirnya ia memilih Program Studi Gizi meski sempat merasa kecewa karena berbeda dengan harapan awal.

“Awalnya sedih karena tidak sesuai keinginan. Cita-cita dokter, lalu apoteker, coba kebidanan dan perawat juga gagal. Akhirnya bapak menyarankan Gizi. Alhamdulillah akhirnya bisa diterima dengan KIPK,” ujarnya penuh haru.

Bagi Lala, keluarga adalah alasan utama untuk terus berjuang. Tekad kuat, doa, dan kesempatan melalui beasiswa membuatnya yakin dapat menyelesaikan studi dan mewujudkan harapan menjadi kebanggaan orang tua di kampung halamannya.

“Pesan saya, tetap semangat dan gunakan bantuan yang diterima sebaik mungkin untuk meraih cita-cita. Kita tidak pernah tahu seberapa besar pengorbanan orang tua demi pendidikan anak-anaknya,” tutup Lala.

Kisah Lala menjadi inspirasi bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.

Dengan tekad, kerja keras, dan doa, pintu kesempatan selalu terbuka bagi siapa pun yang mau berusaha.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60