BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), adalah sebuah program yang diluncurkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Dari sini, Pemkab Lumajang mendorong program itu diterapkan. Pemda akan memelopori GATI.
Menurut Kepala Dinas Kesehan, Pengendalian Pendudukan dan Keluaga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang, dokter Rosyidah, program ini bertujuan untuk meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan anak dan pembangunan keluarga, serta menanggulangi fenomena fatherless (anak tanpa ayah).
“Tujuan keduanya, menciptakan lingkungan yang harmonis, sehat dan seimbang. Selanjutnya, mewujudkan keluarga berkualitas, mencegah stunting, dan mendorong ayah untuk menjadi figur teladan, pelindung dan sahabat bagi anak,” kata Rosyidah, usai nobar, Kamis (14/8/2025), film “Panggil Aku Ayah.”
Menurut Rosyidah, sasaran program GATI ini, adalah calon ayah, ayah yang sudah menikah, remaja dan para remaja dan keluarga yang berisiko tinggi.
“Implementasi dari GATI, dengan pendekatan berbasis sekolah (sebaya), konseling pra nikah untuk mempersiapakan calon ayah, kegiatan advokasi dan sosialisasi kepada masyarakat, penyediaan layanan konselin melalui web,” papar Rosyidah.
Sedangkan manfaat GATI, anak mendapat stimulasi intelektual yang penting dari ayah, anak memiliki figur ayah yang terlibat aktif dalam tumbuh kembangnya, keluarga menjadi lebih harmonis dan berkualitas dan mencegah dampak negatif dari fenomena fatherless.
“Dengan GATI, BKKBN mendorong peran ayah yang lebih aktif dalam keluarga, tidak hanya aebagai pencari nafkah, tetapi sebagai pendidik, pengasuh dan sahabat bagi anak-anak mereka,” tukasnya.
Menurut Rosyidah, ada 5 inisiatif prioritas yang bertujuan untuk mempercepat pencapaian terget pembangunan keluarga berkualitas, yang mencakup Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Syunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Lansia Berdaya (SIDAYA) dan Super APPs tentang Keluarga.
“Ini semua masuk dalam program quick win, semoga dapat memberikan dampak positif dan signifikan dalam upaya mencapai keluarga yang beekualitas dan sejahtera,” bebernya.
Kata Rosyidah, GENTING ini fokus pada pencegahan stunting melalui peran orang tua asuh yang memberikan perhatian dan dukungan pada keluarga beresiko stunting.
“Kalau Tamasya, menyediakan tempat pengasuhan anak yang berkuaitas dan aman bagi anak usia dini, mendukung orang tua yang bekerja. Dan GATI, akan mengajak para ayah untuk lebih aktif dalam pengasuhan dan pembangunan keluarag serta mwnjadi teladan bagi anak-anak,” terangnya.
Untuk program SIDAYA, yaitu bertujuan untukmemberdayakan lansia agar tetap aktif, sehat dan produktif baik secara fisik maupun secaa mental. Sedangkan program Super Apps tentang keluarga, diera digital ini sebuah aplikasi yang menyediakan informasi dan layanan terkait keluarga berencana, pembangunan keluaga serta konsultasi terkait stunting dan isu-isu keluarga lainnya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) P2KBKS, Dinkes P2KB Kabupaten Lumajang, dokter gigi Rina Dwi Astuti, turut berkomentar untuk film “Panggil Aku Ayah”.
Menurutnya ini sebuah tontonan yang lumayan bagus. Melo tapi komedi. Penonton dikocok untuk kadang nangis, kadang tertawa.
Kata Rina, ada pesan positif dalam film tersebut, yaitu adanya dukungan kasih sayang ayah (meskipun bukan ayah kandung), yang berdampak pada karakter anak yang tangguh, sehingga sukses.
“Bila diselaraskan dengan salah satu program quick win Kemendukbangga “GATI” (Gerakan ayah teladan Indonesia), maka film ini bisa direkomendasikan untuk kampanye pentingnya kontribusi ayah pada proses pengasuhan anak agar tidak terjadi Fatherless,” jelasnya kepada wartawan.
Sayangnya, kata Rina, penggambaran kontribusi ayah di film ini kurang banyak. Yang sudah nampak, misalnya antar anak kesekolah, mengajari anak menabung dan target, serta kepedulian ayah terhadap prestasi juga hubungan sosial anak.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















