Terkini

Fortifikasi Beras, Strategi Baru Jawa Timur Tekan Stunting

21
×

Fortifikasi Beras, Strategi Baru Jawa Timur Tekan Stunting

Sebarkan artikel ini
Suasana saat peluncuran dan diseminasi hasil analisis FPBB Provinsi Jatim.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melangkah lebih jauh dalam upaya perbaikan gizi masyarakat. Setelah sukses dengan fortifikasi garam, minyak goreng, dan tepung terigu, kini giliran beras yang akan diperkaya dengan vitamin dan mineral.

Keputusan tersebut disampaikan dalam acara Peluncuran dan Diseminasi Hasil Analisis Situasi Fortifikasi Pangan Berskala Besar (FPBB) di Hotel JW Marriott, Surabaya, Kamis (31/7/2025).

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, menegaskan bahwa fortifikasi beras akan menjadi bagian dari program prioritas ketahanan pangan daerah.

“Ketahanan pangan dan perbaikan gizi menjadi prioritas utama dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah. Setelah beberapa komoditas sebelumnya, kini kami berfokus pada beras,” ujar Adhy dalam sambutannya.

Beras fortifikasi yang dimaksud mengandung kernel berisi mikronutrien penting seperti zat besi, vitamin B, dan asam folat.

Kernel tersebut dicampur secara merata dengan beras konsumsi sebelum didistribusikan.

Adhy menjelaskan bahwa beras fortifikasi akan dimasukkan dalam program bantuan pangan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, sekaligus mendukung target penurunan angka stunting.

Dukungan terhadap langkah tersebut datang dari UNICEF. Kepala Perwakilan UNICEF Wilayah Jawa, Tubagus Arie Rukmantara, menyebut Jawa Timur sebagai pelopor dalam fortifikasi pangan di Indonesia.

Menurutnya, upaya yang dilakukan provinsi ini memberikan dampak nyata terhadap perbaikan gizi masyarakat dalam skala besar.

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, saat wawancara,

“Jawa Timur memiliki populasi lebih dari 41 juta jiwa. Jika program fortifikasi beras dijalankan secara merata, dampaknya akan sangat besar. Dengan tambahan biaya sekitar Rp1.000 per kilogram, manfaat jangka panjangnya bisa mencapai 17 kali lipat,” jelas Tubagus.

Lebih lanjut, Tubagus menilai bahwa program ini bisa menjadi model nasional bahkan internasional, sebagaimana sebelumnya terjadi pada yodisasi garam.

Sementara itu, kalangan akademisi juga memberikan dukungan penuh. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, menekankan pentingnya perbaikan gizi melalui bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

“Kita semua makan nasi setiap hari. Selama ini, kandungan gizinya rendah karena sebagian besar hanya karbohidrat. Jika dalam beras itu sudah terkandung vitamin dan mineral, maka masyarakat akan lebih mudah mendapatkan asupan gizi seimbang,” terangnya.

Unusa sendiri selama lima tahun terakhir aktif bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk internasional, untuk program edukasi gizi.

Kegiatan ini menyasar remaja, ibu hamil, dan keluarga di daerah terdampak bencana.

Program FPBB di Jawa Timur tidak hanya ditujukan kepada penerima bantuan sosial.

Sosialisasi juga diarahkan untuk menjangkau masyarakat umum agar semakin banyak yang memahami pentingnya gizi dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah daerah pun menggandeng berbagai sektor, termasuk perguruan tinggi, swasta, dan organisasi internasional untuk memperluas dampak program.

Dengan pendekatan multisektor dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, fortifikasi beras diharapkan menjadi langkah konkret dalam mengatasi stunting dan kekurangan gizi di Jawa Timur.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60