Terkini

Seniman Ludruk Asal Jombang Meninggal Saat Manggung

58
×

Seniman Ludruk Asal Jombang Meninggal Saat Manggung

Sebarkan artikel ini

BERITABANGSA.COM-JOMBANG – Seniman ludruk asal Dusun Punden, Desa Kedungdowo, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, yang biasa disapa Cak Mukadi ini meninggal saat manggung. Video detik-detik dia terkulai beredar luas di jagat maya.

Dalam video yang diterima Beritabangsa.com, Cak Mukadi, sedang pentas di atas panggung di daerah Gagang Panjang, Tanggulangin, Sidoarjo. Dalam video berdurasi 1 menit 58 detik ini, tubuh Cak Mukadi, lemas dan terkulai perlahan. Dia sesekali memegangi pinggulnya.

Scroll untuk melihat berita

Tepat di menit ke-1 dan detik ke-46, Cak Mukadi terjatuh tertelungkup. Warga pun heboh. Suara alat musik tradisional sontak terhenti. Si perekam video ini sempat berujar, Cak Mukadi pingsan.

“Oh temenan Iki, gak kuat Iki. Loh kan semaput,” tutur perekam video detik-detik Cak Mukadi gugur saat pentas.

Pimpinan Ludruk Delta Wijaya, Mustakim membernarkan informasi tersebut. Menurutnya, Cak Mukadi itu sedang mementaskan seni tari Remo bolet dalam rangka khitanan.

“Itu di daerah Tanggulangin Sabtu (23/7/2022) malam. Itu pada waktu acara khitanan, terus kejadiannya pukul 23.00 WIB,” ujar Mustakim kepada wartawan saat melayat di rumah duka pada, Senin (25/7/2022) siang.

Mustakim yang mengaku kenal akrab dengan Cak Mukadi sejak awal pandemi ini, menceritakan kronologi kejadian detik-detik gugurnya seniman multitalent ini.

Kala itu penampilan Cak Mukadi, masih pembukaan. Ia menari seorang diri dengan diiringi musik tradisional. Nahas terjadi, Cak Mukadi, mendadak terjatuh tertelungkup.

“Iya waktu itu kan memang tari Remo Bolet dan memang dilakukan seorang penari. Gak nyangka Mas,” jelasnya.

Penabuh gendang, Yoni Sugianto (29), bersaksi. Dia melihat Cak Mukadi jatuh, lalu sejumlah kru menolong.

Karena kondisi darurat, sejumlah kru langsung membawa Cak Mukadi ke Rumah Sakit Siti Fatimah menggunakan pikap.

“Dibawa ke RS Siti Fatimah, kemudian diketahui meninggal itu saat di Rumah Sakit,” bebernya di rumah duka.

Kata Yoni, Cak Mukadi sebelum pentas, terlihat baik-baik saja dan tak jarang bergurau dengan para kru.

Namun Yoni, mengatakan Cak Mukadi juga dikenal sosok yang profesional.

“Tidak ada tanda-tanda sakit. Memang beliau itu orang yang profesional. Seperti tidak pernah bilang sakit, selalu ingin tampil terbaik. Jadi semangatnya beliau sangat luar biasa,” katanya.

Meninggalnya seniman ludruk asal Jombang ini, sangat memukul kru lainnya. Yoni mengaku sangat kehilangan, karena belum ada generasi lanjut yang mampu menggantikan posisinya.

“Kami merasa sangat kehilangan. Sampai sekarang belum ada generasi yang cocok menggantikan posisinya. Tidak tahu ke-depannya.Dia berpesan untuk selalu menjaga kerukunan, kekompakan dan terus melestarikan seni budaya ini,” pungkasnya.

Pihak RS Fatima kala itu memastikan Cak Mukadi meninggal dunia pada pukul 02.00 WIB. Kata Cak Munaji, saudara almarhum, jenazah Cak Mukadi pun langsung dibawa ke rumah duka.

“Iya, langsung dibawa ke sini. Lalu dimakamkan, hari Minggu, siang hari,” cetus Munaji.

Munaji tak tahu pasti kondisi Cak Mukadi sebelum berangkat ke Sidoarjo. Namun, dia mengakui adiknya itu memiliki penyakit jantung.

“Sering ada masalah jantung.. Tapi orangnya itu selalu semangat, kerja, terus terkait kesenian dan budaya itu juga,” bebernya.

Kata Cak Munaji, almarhum dikenal berdarah seni sejak kecil. Bahkan adiknya itu sangat cinta dengan budaya ludruk. Gegara seni ludruk, almarhum tidak tuntas mengenyam bangku sekolah dasar (SD).

“Dia itu, almarhum Mukadi tidak tuntas sekolah SD-nya, malah sering belajar tari di sawah. Tidak ada yang ngajari. Jadi bakat dan talentanya dari dirinya sendiri, tidak ada keturunan atau yang ngajari,” imbuhnya.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *