Ketegangan yang masih berlanjut itu, membuat Kapal Tujuh Provinsi dikepung pesawat tempur dan kapal selam Belanda, yang masing-masing dilengkapi senjata untuk melawan para pemberontak. Pemerintah Hindia Belanda berkali-kali memberikan peringatan, namun seolah tidak didengar para awak kapal. Hingga momen mengejutkan datang dari salah satu pesawat dengan mengeluarkan bom, tepat di atas kapal yang dikomandoi Kawilarang.
Akibat dari pengeboman Kapal Tujuh Provinsi, nyawa para awak kapal berguguran. Saat itu hanya tersisa beberapa awak kapal dan Kawilarang. Kawilarang diminta menyerahkan diri beserta kawanannya, kemudian dimasukkan kedalam tahanan sebelum diajukan ke Makamah.
Meskipun pada dasarnya gerakan ini tidak didasari kepentingan politik dan murni karena demi memperjuangkan ekonomi saat itu, peristiwa ini membangkitkan kesadaran kaum Bumiputra saat itu. Merasakan kehidupan yang layak sebagai pelaut hanya bisa dirasakan oleh mereka yang menjalani profesi ini. Tetapi dari pengalaman beberapa kru kapal banyak yang mengaku jika gaji yang di terima masih jauh dari kata layak.
Ini bisa menjadi pertimbangan Pemerintah RI untuk menyejahterahkan para pelaut Indonesia. Caranya dengan memberikan gaji para pelaut Indonesia yang sesuai dengan job description mereka
Demikian catatan sejarah tentang Kapal Tujuh Provinsi. Peristiwa sejarah yang memperjuangkan hak-hak Bumiputra yang berasal dari berbagai suku, ras, dan agama, hingga bersatu membangkitkan rasa nasionalisme! Untuk itu setiap tanggal 5 Februari diperingati Peristiwa Kapal Tujuh Provinsi ini sebagai salah satu hari besar.
*Oleh: Kinanti Riski Rahmadani
(*) Kinanti Riski Rahmadani, masih duduk di bangku SMA
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.id
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















