Profil

Nabil Loverino Pilih 2 Jalan: Jadi Dokter dan Pesepak Bola Profesional

6
×

Nabil Loverino Pilih 2 Jalan: Jadi Dokter dan Pesepak Bola Profesional

Sebarkan artikel ini
Nabil loverino

BERIRABANGSA.ID, SURABAYA – Sore hari menjadi waktu bagi Nabil Loverino Misab untuk berlatih di lapangan. Namun sejak pagi hingga siang, ia harus menjalani rutinitas sebagai mahasiswa baru S1 Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), berkutat dengan buku, praktikum, dan berbagai tuntutan akademik.

Dua dunia yang berbeda itu kini menjadi bagian dari keseharian Nabil. Di satu sisi, ia mengejar cita-cita sebagai dokter melalui pendidikan kedokteran. Di sisi lain, ia tetap mempertahankan kecintaannya terhadap sepak bola sebagai pemain Persebaya U-20.

Bagi Nabil, menjalani dua perjalanan tersebut bukan perkara mudah. Namun ia memilih tidak meninggalkan salah satunya. Selama keduanya masih dapat berjalan beriringan, ia ingin mempertahankan dua mimpi yang telah membentuk perjalanan hidupnya.

Remaja yang akrab disapa Nabil itu saat ini berposisi sebagai pemain sayap kanan Persebaya U-20. Ia juga dapat dimainkan sebagai penyerang. Kecintaannya terhadap sepak bola tumbuh sejak usia sembilan tahun ketika mulai bermain bersama teman-temannya.

Dari sekadar bermain, kemampuan Nabil terus berkembang hingga ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya. Perjalanan tersebut kemudian membawanya masuk ke lingkungan Persebaya sejak usia 13 tahun.

“Dari umur 13 sudah masuk Persebaya,” ujar Nabil.

Meski kini menekuni sepak bola secara serius, perjalanan Nabil tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di lingkungan keluarganya, sepak bola pada awalnya masih dipandang sebagai hobi. Keluarganya justru memiliki kedekatan kuat dengan dunia kesehatan.

Ayah Nabil merupakan analis kesehatan. Sementara dua kakaknya berprofesi sebagai dokter. Kakak pertamanya adalah dokter spesialis kandungan, kakak keduanya dokter umum, sedangkan kakak ketiganya berprofesi sebagai guru.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki, Nabil memahami bahwa keluarganya memiliki harapan besar terhadap masa depannya. Ia pun diarahkan untuk mengikuti jejak kedua kakaknya dengan menempuh pendidikan kedokteran.

“Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola,” tutur Nabil.

Seiring waktu, Nabil mulai menemukan alasan pribadinya untuk menjalani pendidikan kedokteran. Ia tidak lagi melihatnya hanya sebagai pilihan keluarga, melainkan sebagai persiapan untuk masa depan.

Salah satu pertimbangannya adalah perjalanan karier seorang atlet yang memiliki batas waktu. Menurut Nabil, karier sepak bola sangat bergantung pada kondisi fisik, usia, cedera, serta kesempatan mendapatkan klub.

“Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang,” katanya.

Pemikiran tersebut membuat Nabil tidak ingin mempertentangkan dunia sepak bola dengan pendidikan kedokteran. Ia memilih menjalani keduanya dengan menempatkan kuliah sebagai prioritas, sementara sepak bola tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah pengaturan waktu. Jadwal kuliah kedokteran yang padat harus berjalan bersamaan dengan latihan dan persiapan pertandingan bersama Persebaya U-20.

Untuk mengatasinya, Nabil mulai membangun kebiasaan mengatur waktu sejak awal masa kuliah. Ia telah menyiapkan jadwal belajar agar tugas akademik tetap dapat diselesaikan tanpa mengganggu aktivitas sepak bola.

“Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu,” ujarnya.

Menurut Nabil, jadwal latihan sepak bola yang berlangsung pada sore hari relatif tidak banyak berbenturan dengan kegiatan kuliah. Dalam waktu dekat, ia juga masih akan menjalani latihan intensif karena dijadwalkan mengikuti pertandingan.

Bagi Nabil, menjadi mahasiswa kedokteran sekaligus pesepak bola bukan berarti harus memilih salah satu untuk ditinggalkan. Ia ingin melihat sejauh mana kedua perjalanan tersebut dapat berjalan bersama.

Selama sepak bola tidak mengganggu kewajibannya sebagai mahasiswa, Nabil masih ingin terus bermain dan membuka peluang untuk melanjutkan karier hingga jenjang senior.

Sambil mengejar bola di lapangan hijau, Nabil kini juga menyiapkan langkahnya di ruang kuliah untuk perjalanan panjang menuju profesi dokter. Dua rutinitas itu menjadi bagian dari kesehariannya sebagai mahasiswa kedokteran sekaligus pemain Persebaya U-20.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60