BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Talenta muda atlet basket SDN apangan bola basket kembali menjadi Citrodiwangsan 02, berlaga dalam Merdeka Cup II 2026, sekaligus mengukur skill dalam kompetisi.
SDN Citrodiwangsan 02 bukan semata mengejar juara, namun menjadikan ruang pembelajaran bagi para pemain untuk mendapatkan jam terbang bertanding sejak usia dini.
Langkah itu penting karena kemampuan atlet tidak cukup dibentuk hanya melalui latihan rutin. Pertandingan nyata dengan tekanan lawan, atmosfer kompetisi dan tuntutan mengambil keputusan cepat menjadi bagian penting dalam proses pematangan atlet.
“Jam terbang mereka masih terhitung muda. Karena itu harus terus diasah. Jangan hanya latihan, tetapi harus berani turun dalam pertandingan dan merasakan langsung atmosfer kompetisi,” kata Firman, Jumat (21/8/2026).
Menurutnya, pengalaman bertanding akan menjadi bekal penting bagi para pemain untuk berkembang. Kekalahan maupun kemenangan sama-sama menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kemampuan individual dan permainan tim.
“Yang paling penting mereka berani bertanding, tidak takut menghadapi lawan dan mampu menjaga mental ketika berada dalam tekanan. Dari pertandingan seperti ini mereka belajar,” ujar guru olah raga ini.
Partisipasi SDN Citrodiwangsan 02 juga memperlihatkan bahwa pembinaan bola basket di tingkat sekolah dasar membutuhkan kompetisi yang berkelanjutan. Turnamen seperti Merdeka Cup diharapkan tidak berhenti sebagai ajang perebutan gelar, tetapi benar-benar menjadi ruang pencarian dan pembibitan atlet basket masa depan Lumajang.
Apalagi, SDN Citrodiwangsan 02 sebelumnya juga tercatat aktif di berbagai kegiatan dan kompetisi bola basket. Jejak tersebut menunjukkan bahwa pembinaan olahraga di sekolah dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menemukan talenta-talenta baru.
Bagi para pemain muda, Merdeka Cup II 2026 menjadi lebih dari sekadar pertandingan. Setiap menit bermain adalah kesempatan belajar, setiap kesalahan menjadi bahan evaluasi, dan setiap tekanan di lapangan menjadi latihan untuk membangun mental kompetitif.
Di sinilah tantangan pembinaan olahraga usia dini sebenarnya berada. Bibit unggul tidak muncul secara instan. Mereka membutuhkan latihan, kompetisi, pendampingan dan kesempatan bermain yang konsisten.
Jika ruang-ruang kompetisi terus dibuka, bukan tidak mungkin dari lapangan-lapangan sekolah dasar seperti inilah kelak lahir pemain-pemain basket yang mampu membawa nama Lumajang ke level yang lebih tinggi.
Merdeka Cup II 2026 pun akhirnya bukan sekadar soal siapa yang mengangkat trofi. Lebih penting dari itu, siapa yang berhasil menemukan, menempa dan menjaga talenta muda agar tidak berhenti sebagai bibit potensial.


















