Terkini

Aksi Cinta Rupiah Guncang Lumajang, UMKM Rame-rame ke Digital dan QRIS

14
×

Aksi Cinta Rupiah Guncang Lumajang, UMKM Rame-rame ke Digital dan QRIS

Sebarkan artikel ini
Cinta Rupiah
Perwakilan Bank Indonesia Jember saat memberikan paparan kepada peserta.

BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Gelombang transformasi digital mulai mengguncang pelaku usaha mikro di Kabupaten Lumajang. Program Sosialisasi Gerakan Cinta Rupiah yang digelar oleh Bank Indonesia Perwakilan Jember, Rabu (13/5/2026), di aula STIH Jenderal Sudirman Lumajang, merubah cara pandang UMKM terhadap sistem keuangan moderen.

Sebanyak 110 pelaku UMKM, umum dan mahasiswa memadati ruangan. Mereka tak sekadar hadir, tetapi juga dituntut memahami realitas baru: dunia usaha kini tak bisa lepas dari digitalisasi dan sistem pembayaran non-tunai.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Lembaga Semeru, DPC Gradasi Lumajang, dan pihak kampus, yang secara serius mendorong percepatan literasi keuangan di tingkat akar rumput.

Kampus Diminta Jadi Motor Perubahan. Rektor STIH Jenderal Sudirman Lumajang, Jati Nugroho, menegaskan bahwa lembaga pendidikan tak boleh hanya menjadi “menara gading” yang jauh dari realitas masyarakat.

“Kami ingin kampus ini unggul dalam ilmu hukum, termasuk hukum ekonomi. Tapi itu tidak cukup. Kami juga ingin berkontribusi nyata bagi Lumajang, terutama dalam penguatan UMKM berbasis digital,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi dan penguatan kerja sama lintas sektor agar kampus mampu mencetak lulusan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Perwakilan Bank Indonesia Jember, Herdiawan Antono, memaparkan dua materi utama yang menjadi fondasi penting bagi pelaku usaha.

Pertama, soal kebanksentralan dasar dan literasi keuangan, termasuk bagaimana peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi serta pengelolaan uang (cash management).

Kedua, yang paling menyita perhatian peserta: inovasi sistem pembayaran digital seperti QRIS dan BI-FAST.

“Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. UMKM harus siap agar tidak tertinggal,” ujarnya tegas.

Antusiasme peserta mencapai puncaknya saat sesi dari Bank Syariah Indonesia Cabang Lumajang yang diwakili Erfi Heru Setiyono.

Ia menjelaskan secara teknis cara pembuatan QRIS hingga manfaatnya dalam memperluas jangkauan pasar.

Tak butuh waktu lama, suasana langsung berubah menjadi “bursa digital dadakan”. Sejumlah pelaku UMKM spontan meminta dibuatkan QRIS untuk usahanya di lokasi.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: kesadaran digital mulai tumbuh, meski sebelumnya masih tertinggal.

Ketua DPC Gradasi Lumajang, Achmad NurHuda, menyampaikan pesan yang cukup keras namun realistis.

“UMKM harus melek digital. Kalau tidak, akan tertinggal jauh. Digitalisasi justru memudahkan meningkatkan kualitas usaha di era modern,” ungkapnya.

Pernyataan ini menjadi alarm bagi pelaku usaha tradisional yang masih bertahan dengan cara lama.

Suara Pelaku UMKM: “Bisa Go Internasional!”. Salah satu peserta, Utafiyah, mengaku kegiatan ini membuka wawasannya.

“Saya sangat senang. Ini sangat bermanfaat untuk usaha saya, supaya bisa berkembang bahkan go internasional,” ucapnya optimistis.

Sementara itu, Pimpinan Lembaga Semeru, Achmad Fuad Afdlol, menilai kegiatan ini sukses besar.

“Peserta sangat interaktif. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan literasi keuangan dan digital memang nyata di masyarakat,” bebernya.

Program seperti ini menjadi bukti bahwa transformasi digital di daerah bukan lagi wacana, tetapi kebutuhan mendesak. Namun, tantangan terbesar bukan pada sosialisasi melainkan konsistensi pendampingan pasca kegiatan.

Jika tidak berkelanjutan, euforia QRIS hari ini bisa saja hanya menjadi tren sesaat tanpa dampak jangka panjang.

Lumajang kini berada di persimpangan: tetap konvensional atau berani melompat ke era digital. Pilihan ada di tangan para pelaku UMKM.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60