BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Ancaman hama yang kerap menghantui petani hingga memicu gagal panen mendorong lahirnya inovasi berbasis energi terbarukan dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Inovasi tersebut diberi nama Terang dan Angin atau Terangin, sebuah turbin hybrid yang memadukan energi angin dan surya untuk mendukung aktivitas pertanian secara berkelanjutan.
Gagasan ini berangkat dari riset kompetisi yang kemudian berkembang menjadi solusi nyata di lapangan. Chief Executive Officer sekaligus Founder Terangin, Muhammad Hanif, mengungkapkan bahwa inspirasi awal muncul dari potensi angin di Kabupaten Nganjuk yang dikenal sebagai kota angin sekaligus sentra bawang merah.
Kebutuhan petani terhadap teknologi sederhana namun efektif menjadi titik tolak pengembangan produk tersebut.
Terangin mengusung sistem microgrid yang mengintegrasikan energi angin dan surya untuk mengoperasikan lampu jebakan hama secara otomatis.
Pendekatan ini dirancang dengan prinsip kesederhanaan agar mudah diterapkan petani tanpa ketergantungan pada teknologi kompleks.
Sistem tersebut tidak hanya menekan serangan hama, tetapi juga mengurangi penggunaan pestisida kimia yang selama ini membebani biaya produksi.
Efisiensi biaya menjadi salah satu keunggulan utama. Tim pengembang menghadirkan desain pondasi modular non-permanen yang mampu memangkas biaya hingga delapan kali lipat dibandingkan pondasi beton konvensional.
Struktur ini memungkinkan turbin dipasang dan dibongkar dengan mudah, sehingga fleksibel digunakan di lahan sewa maupun berpindah lokasi sesuai kebutuhan petani.
Dari sisi keamanan operasional, Terangin dilengkapi sistem rem otomatis bernama remin.
Mekanisme ini bekerja tanpa listrik maupun sensor, melainkan memanfaatkan gaya dorong angin untuk mengendalikan putaran turbin.
Selain lebih hemat energi, sistem tersebut juga minim perawatan karena tidak membutuhkan pemantauan intensif.
Inovasi juga merambah aspek pemeliharaan. Tim Terangin memanfaatkan teknologi drone untuk melakukan monitoring jarak jauh di area pertanian.
Metode ini memungkinkan deteksi dini potensi kerusakan sehingga proses perawatan menjadi lebih cepat, efisien, dan aman tanpa harus membongkar struktur turbin.
Secara teknis, sistem yang dikembangkan mampu menghasilkan energi sekitar 2,1 kWh per hari.
Energi tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk lampu jebakan hama, tetapi juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain seperti irigasi dan sprinkler.
Dengan demikian, satu sistem mampu menjawab berbagai kebutuhan dasar dalam aktivitas pertanian modern.
Dampak ekonominya cukup signifikan. Penggunaan Terangin disebut mampu menghemat biaya hingga puluhan juta rupiah per hektare setiap musim tanam.
Selain itu, risiko gagal panen akibat serangan hama yang sebelumnya dapat mencapai sekitar 50 persen berhasil ditekan.
Pengurangan penggunaan pestisida turut berkontribusi pada peningkatan kesuburan tanah dan kualitas hasil panen.
Pengembangan Terangin melibatkan kolaborasi lintas disiplin. Selain Hanif, tim inti terdiri dari Rafi Pradana dan Rafi S Lamikan dari Teknik Mesin, Diah Ayu NurFadillah dari Statistika, serta Anindya Khoirunnisya dari Manajemen Bisnis.
Dukungan juga datang dari sejumlah anggota lain yang memperkuat riset dan implementasi di lapangan.
Kinerja tim tersebut berbuah pengakuan di tingkat global. Terangin berhasil menembus jajaran Top 6 dalam ajang Fowler Global Innovation Challenge 2026 yang digelar di San Diego, sekaligus meraih penghargaan senilai 3.000 dolar AS.
Capaian ini mempertegas posisi inovasi mahasiswa Indonesia di kancah internasional.
Tidak berhenti sebagai proyek riset, Terangin kini berkembang menjadi startup dengan omzet mencapai ratusan juta rupiah.
Sumber pendapatan diperoleh dari penjualan produk maupun dukungan hibah pengembangan inovasi. Model bisnis ini menunjukkan bahwa teknologi berbasis riset memiliki peluang besar untuk dikomersialisasikan sekaligus memberikan dampak sosial.
Pengembangan Terangin juga selaras dengan agenda global Sustainable Development Goals, terutama pada aspek energi bersih dan terjangkau, industri dan inovasi, serta pola produksi yang bertanggung jawab.
Inisiatif ini mencerminkan peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan nyata di sektor pertanian melalui pendekatan teknologi yang adaptif dan aplikatif.


















