Terkini

Sosiolog : Bung Karno Lahir di Ploso Teguhkan Kultur Nasionalis-Religius Jombang

24
×

Sosiolog : Bung Karno Lahir di Ploso Teguhkan Kultur Nasionalis-Religius Jombang

Sebarkan artikel ini
Bung Karno
Kondisi rumah kelahiraan Bung Karno, di Rejoagung, Ploso Jombang, (sumber foto : Arief)

BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Sosiolog Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Mukari angkat bicara terkait adanya narasi sejarah Bung Karno lahir di Ploso, Jombang, 6 Juni 1902 yang disuarakan oleh para pemerhati sejarah di Jombang maupun Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang.

Mukari mengatakan, jika betul Bung Karno lahir di Ploso, hal itu akan memberikan.dampak positif bagi Kabupaten Jombang, karena semakin meneguhkan posisi penting Jombang yang berkarakter nasional-religius.

“Bung Karno simbol nasionalis. Sisi religiusnya bisa terwakili oleh Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, dan juga Gus Dur yang merupakan tokoh-tokoh kaliber internasional berbasis pesantren,” kata Mukari, Senin (16/2/2026).

Menurutnya, dengan Bung Karno lahir di Jombang bersanding dengan Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah, serta Gus Dur yang juga dilahirkan di Jombang, Kabupaten Jombang tentunya sangat berpotensi menjadi pusat keilmuan dunia.

“Beliau-beliau ini merupakan tokoh-tokoh berkaliber internasional dan pemikirannya banyak dikaji secara internasional pula,” ucap Mukari.

Di sisi sejarah pemerintahan, tentu kehadiran Bung Karno juga bakal menambah jumlah presiden yang dilahirkan di Kabupaten Jombang.

“Ada Gus Dur, Presiden Keempat RI, dan Bung Karno, Presiden pertama RI,” tandas Mukari.

Dengan demikian, Mukari berpandangan, harusnya wacana Bung Karno lahir di Ploso, Jombang 6 Juni 1902 mendapatkan perhatian serius semua pihak, terutama oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang.

“Bentuk perhatian serius bisa berupa membentuk tim yang memiliki otoritas keilmuan di bidang kajian sejarah, dari para akademisi,” ujar Mukari.

Sebelumnya, pemerhati sejarah di Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif menyampaikan pandangannya terkait Bung Karno lahir di Ploso 6 Juni 1902 yang waktu itu masuk wilayah Karesidenan Surabaya, dan kini masuk wilayah Kabupaten Jombang.

Kabupaten Jombang sendiri kata Cak Arif, baru berdiri pada tahun 1910 seiring dilantiknya Bupati Jombang pertama, R. A. A Soeroadiningrat V yang juga dikenal dengan Kanjeng Sepuh Jombang.

Cak Arif membeberkan sejumlah data yang menguatkan hal tersebut. Di antaranya, data tertulis ‘beseluit’ atau Surat Keputusan (SK) tugas ayah Bung Karno, Raden Soekeni Sosrodihardjo sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso, Surabaya tertanggal 28 Desember 1901. Di Ploso, Raden Soekeni berdinas hingga tahun 1907.

“Raden Soekeni mulai bertugas di Ploso pada tanggal 28 Desember 1901,” kata Cak Arif, Minggu (14/02).

Kemudian, dia juga menunjukkan data tertulis lainnya yakni, tulisan tangan ayah Bung Karno. Di mana pada data tersebut dituliskan jika Raden Soekarno lahir pada tanggal 6 Juni 1902.

“28 Desember 1901 ayah Bung Karno mulai berdinas di Ploso, 6 bulan kemudian Bung Karno lahir. Dan tahun 1907, ayah Bung Karno pindah dari Ploso ke Sidoarjo, ini ada SK-nya juga,” terang Cak Arif.

Tak hanya itu, Cak Arif juga menunjukkan data tertulis lainnya yang menunjukkan bahwa Bung Karno lahir pada 6 Juni 1902. Data tersebut yakni, arsip ITB atau THS. Di situ, dituliskan bahwa Raden Soekarno lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1902.

Lebih lanjut dia kemudian menunjukkan data laporan pekerjaan sipil era Hindia Belanda tepatnya tahun 1894 di mana di data itu dituliskan penyebutan Surabaja (Surabaya) untuk desa-desa yang saat ini masuk wilayah Kabupaten Jombang.

Seperti Desa Wuluh, Pojokrejo, Gumulan, Kedungboto (Podoroto), yang kini masuk Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, dan Semanden yang terkonfirmasi adalah Dusun Semaden, Desa Kepuhdoko, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang.

Pada data itu dituliskan ‘In Surabaja heeft men in den rechter Brantasdijk de volgende irrigatiesluizen’ :

1. Toeri vour 2333 baoes
2. Semanden ,, 251 ,,
3 Goemoelan ,, 391 ,,
4. Kedoengboto ,, 315 ,,
5. Djoembatan ,, 539 ,,
6. Potjokredjo ,, 528 ,,
7. Woeloeh ,, 374 ,,

Lantas, Cak Arif menjelaskan tentang data laporan pekerjaan sipil era Hindia-Belanda tersebut.

“Kurang lebih artinya, di Surabaya di kanan Brantas, dibangun saluran irigasi : Turi untuk 2333 bahu, Semanden untuk 251 bahu, Goemoelan untuk 391 bahu, Kedoengboto untuk 315 bahu, Djoembatan untuk 539 bahu, Potjokrejo untuk 528 bahu, Woeloeh untuk 374 bahu. Ini luas areal pertanian dengan satuan bahu,” beber Cak Arif.

“Nah dengan penyebutan Surabaja atau Surabaya terhadap desa-desa yang sekarang masuk Kabupaten Jombang, menandakan pada masa itu wilayah Kabupaten Jombang memang bagian dari Karesidenan Surabaya,” ungkapnya.

Maka kata Cak Arif, sangat masuk akal jika kelahiran Bung Karno pada 6 Juni tahun 1902 itu ditulis dengan Surabaya.

“Jadi Surabaya yang dimaksud adalah Ploso bagian dari Karesidenan Surabaya,” tandas dia.

Dia juga menambahkan, hal itu sesuai pula dengan narasi sejarah yang ditulis pada buku biografi Bung Karno berjudul ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia’ yang ditulis oleh penulis Amerika, Cindy Adams pada tahun 1966.

Di mana pada salah satu paragraf di buku itu dituliskan ‘karena bapak merasa tidak disukai orang di Bali, ia kemudian mengadjukan permohonan kepada Departemen Pengadjaran untuk dipindahkan ke Djawa. Bapak dikirim ke Surabaja dan disanalah putera sang fadjar dilahirkan’.

“Jadi yang dimaksud Surabaja di sini adalah Ploso, yang waktu itu masuk wilayah Karesidenan Surabaya, dan kini ikut (kabupaten) Jombang,” pungkas Cak Arif.(red)

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60