Jawa Timur

Kemendukbangga Optimalkan Program MBG, Tekan Stunting di Jawa Timur

10
×

Kemendukbangga Optimalkan Program MBG, Tekan Stunting di Jawa Timur

Sebarkan artikel ini

BERITABANGSA.ID, MOJOKERTO – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN melalui penguatan program Quick Wins Bangga Kencana berkolaborasi dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memperkuat percepatan penurunan stunting menuju visi Indonesia Emas 2045.

Penguatan itu bertajuk penguatan Quick Wins Bangga Kencana melalui kolaborasi program MBG yang digelar di Pondok Pesantren Segoro Agung, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jumat (12/12/2025).

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, di antaranya pembina Yayasan Segoro Agung Mayjen Purn HR Gautama Wiranegara, Pembina Yayasan Segoro Agung Makmur Letjen Kunto Arief Wibowo, Pengasuh Ponpes Segoro Agung KH Bimo Agus Sunarno, musisi dan budayawan Sabrang Mowo Damar Panuluh bersama Tim Kiai Kanjeng.

Hadir pula jajaran Dinas PPKB dan P3A Kabupaten Mojokerto, Camat Trowulan, perangkat Desa Sentonorejo, para penyuluh KB, dan kader Bangga Kencana.

Pelaksana Harian Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, menegaskan pada 2025 menjadi titik penting transformasi kelembagaan BKKBN.

Dengan nomenklatur baru sebagai Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, institusi ini mengemban peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

Menurut Sukamto, terdapat lima program Quick Wins Bangga Kencana yang menjadi prioritas nasional. Program tersebut meliputi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Lanjut Usia Berdaya (SIDAYA), serta pengembangan SuperApps Keluarga berbasis kecerdasan buatan untuk edukasi dan layanan keluarga muda, milenial, dan generasi Z.

Ia menegaskan seluruh program tersebut dirancang untuk memperkuat pola pengasuhan, pemenuhan gizi, pemberdayaan keluarga, hingga pemanfaatan teknologi digital sebagai instrumen pembangunan keluarga.

Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional, Program Makan Bergizi Gratis dinilai menjadi instrumen krusial dalam percepatan penurunan stunting, khususnya bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, baduta, dan balita non-PAUD.

Untuk itu, Kemendukbangga/BKKBN telah menjalin nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama dengan Badan Gizi Nasional dalam pengelolaan dan implementasi program tersebut.

Di Jawa Timur, saat ini telah beroperasi 2.290 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang ditunjang oleh 3.124 kader pendamping dari berbagai unsur, seperti Tim Pendamping Keluarga, Institusi Masyarakat Pedesaan, Dapur Sehat Atasi Stunting, Bina Keluarga Balita, serta kader Bangga Kencana.

Sukamto mengungkapkan bahwa angka stunting nasional masih berada pada 19,8 persen, sementara Jawa Timur mencatat angka 14,7 persen.

Ia menegaskan bahwa stunting merupakan persoalan multidimensi yang tidak hanya dipicu oleh kekurangan gizi kronis, tetapi juga oleh praktik pengasuhan yang kurang optimal, keterbatasan layanan kesehatan, serta akses sanitasi dan air bersih yang belum merata.

Ia menekankan bahwa intervensi pencegahan stunting harus dilakukan secara komprehensif melalui intervensi sensitif yang mencakup sektor sanitasi, kesehatan, dan pendidikan, serta intervensi spesifik yang dimulai sejak pranikah hingga pascapersalinan.

Dalam kesempatan yang sama, Sabrang Mowo Damar Panuluh menilai bahwa isu stunting tidak semata berkaitan dengan angka statistik, melainkan menyangkut masa depan peradaban bangsa.

Menurutnya, keberhasilan penurunan stunting menuntut perubahan ekosistem keluarga dan lingkungan sosial secara menyeluruh.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan peran ayah dalam keluarga, sejalan dengan program Gerakan Ayah Teladan Indonesia. Keterlibatan ayah, menurutnya, berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan emosional, psikologis, dan sosial anak.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Segoro Agung KH. Bimo Agus Sunarno menyatakan komitmen pesantren untuk turut berperan aktif dalam upaya pencegahan stunting.

Dukungan tersebut diwujudkan melalui edukasi gizi, pemantauan kesehatan santri, serta pendampingan masyarakat di lingkungan sekitar pesantren.

Melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, tokoh agama, budayawan, dan masyarakat, Kemendukbangga/BKKBN optimistis percepatan penurunan stunting dapat diwujudkan secara berkelanjutan demi menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60