Pendidikan

Perjuangan Penerima Beasiswa KIP-K Unusa Fakultas Kedokteran

29
×

Perjuangan Penerima Beasiswa KIP-K Unusa Fakultas Kedokteran

Sebarkan artikel ini
Unusa

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus menegaskan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang bermanfaat bagi masyarakat dan terbuka bagi siapapun yang ingin menempuh pendidikan tinggi.

Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut adalah penerimaan mahasiswa melalui jalur Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), program beasiswa dari pemerintah yang ditujukan bagi generasi muda kurang mampu secara ekonomi namun memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu.

Rektor Unusa, Prof. Ir. Achmad Jazidie, menjelaskan bahwa kuota KIP-K setiap perguruan tinggi berbeda, sesuai dengan ketetapan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Tahun ini, Unusa untuk pertama kalinya mendapatkan kuota lima penerima KIP-K di Fakultas Kedokteran.

“Menjadi kebanggaan bagi Unusa bisa memfasilitasi para penerima KIP-K untuk belajar Kedokteran, yang kita ketahui memerlukan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.

Salah satu penerima KIP-K adalah Putri Yanti, mahasiswa asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Setelah lulus SMA pada 2023, Putri harus menjalani masa penantian selama dua tahun.

Ia gagal lolos di berbagai jalur seleksi, baik nasional maupun mandiri, bahkan sempat bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.

“Ibu saya pedagang, penghasilannya tidak menentu. Saya sempat bekerja, tapi akhirnya berhenti di 2024 untuk fokus persiapan SNBT. Sayangnya, tidak lolos juga,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kekecewaan itu tidak menghentikan langkah Putri. Ia terus mencari peluang, hingga akhirnya menemukan informasi bahwa Unusa membuka kesempatan KIP-K untuk Fakultas Kedokteran.

“Alhamdulillah lolos, rasanya bahagia sekali. Dari kecil saya bercita-cita jadi dokter spesialis kandungan. Beasiswa ini memberikan harapan baru untuk saya, ibu, dan adik saya,” katanya penuh syukur.

Cerita serupa datang dari Anjhely Andreani asal Prabumulih, Sumatera Selatan.

Latar belakang keterbatasan layanan kesehatan di kampung halamannya memicu tekad besar untuk menjadi dokter.

“Di kecamatan tempat saya tinggal, jumlah penduduk ribuan, tapi hanya ada satu dokter. Bahkan jumlah bidan pun terbatas, hanya dua orang untuk satu desa,” tuturnya.

Meski kehilangan sosok ayah sejak usia sembilan tahun karena perpisahan orang tuanya, semangat Anjhely tidak surut.

“Saya sempat ragu untuk kuliah, tapi melihat teman-teman SMA yang punya ambisi, saya juga ikut termotivasi. Apalagi ibu selalu mendukung saya,” tambahnya.

Zahrotul Aini, mahasiswa asal Situbondo, Jawa Timur, juga menjadi bagian dari penerima KIP-K Unusa Kedokteran.

Dorongan kuat datang dari keluarganya, terutama ayahnya, yang meyakinkannya untuk terus melanjutkan pendidikan meski biaya sekolah kedokteran terkenal sangat tinggi.

Motivasi Zahrotul semakin kuat ketika ibunya divonis menderita hiperglikemia.

“Sejak saat itu saya semakin bertekad untuk menjadi dokter, agar bisa membantu ibu saya dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Bagi Zahrotul, profesi dokter bukan hanya soal keterampilan medis, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan.

“Menjadi dokter berarti belajar mendengarkan keluhan pasien, memahami latar belakang mereka, dan memberikan penanganan terbaik dengan penuh empati,” katanya penuh keyakinan.

Kisah Putri, Anjhely, dan Zahrotul adalah potret nyata perjuangan generasi muda yang berangkat dari keterbatasan.

Program KIP-K di Unusa membuka jalan bagi mereka untuk mewujudkan cita-cita besar menjadi dokter, profesi yang membutuhkan pengorbanan sekaligus dedikasi tinggi.

Bagi Unusa, hadirnya mahasiswa penerima KIP-K di Fakultas Kedokteran bukan sekadar capaian administratif, tetapi juga bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mencetak tenaga kesehatan yang berdedikasi untuk bangsa.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60