Menurut Ito, proses mengarahkan para pemain tidak menemui hambatan berarti. Sebab, mereka sudah memiliki pengalaman berakting melalui berbagai konten yang diproduksi Woko Channel.
Film ini tidak sekadar mengandalkan komedi khas para pemainnya. Ito mengemas cerita dengan memadukan unsur drama, komedi, dan supranatural. Di balik berbagai kejadian jenaka, terdapat pesan mengenai pentingnya memantaskan diri sebelum mengharapkan sesuatu.
Ito menilai, seseorang terkadang terlalu sibuk berusaha menjadi orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Padahal, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memperbaiki dan mempersiapkan diri sendiri.
“Ketika kita menginginkan sesuatu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat diri kita pantas untuk mendapatkan hal itu,” paparnya.
Dalam film Piye To Kih, Mukidi dikisahkan berusaha membuktikan kesiapannya menikahi Bunga (Gabriella Desta), perempuan yang selama ini menjadi pujaan hatinya. Salah satu caranya adalah dengan membeli rumah sendiri agar dianggap sudah mapan.
Namun, rencana tersebut justru berantakan. Hubungan asmaranya kandas, sementara rumah tua murah yang dibelinya malah mempertemukan Mukidi dengan Sukma, perempuan misterius dari alam berbeda.
Persoalan semakin rumit ketika Mukidi harus menghadapi hubungan yang tidak biasa. Sukma merupakan arwah yang bersemayam dalam sebuah boneka. Perbedaan alam hingga keyakinan membuat kisah mereka dipenuhi berbagai konflik.
Bersama dua sahabatnya, Gendut yang diperankan Sutrisno Agung dan Penyok yang diperankan Eko Dunung, Mukidi terseret dalam situasi yang menghadirkan perpaduan kekacauan, persahabatan, dan kisah cinta.
Selain Heri Chandra, Dara Sarasvati, Sutrisno Agung, Eko Dunung, dan Gabriella Desta, film ini juga menghadirkan karakter Mbak Mintul serta Pak No.
Tak hanya mengandalkan cerita dan kekuatan akting, film tersebut turut diperkuat empat lagu original soundtrack (OST) ciptaan Lek Dahlan. Masing-masing berjudul Piye To Kih?, Sigaran Nyowo, Kelangan, dan Gemati.
Dengan membawa Woko Channel dari platform digital ke layar lebar, film ini menjadi salah satu upaya membuka ruang lebih luas bagi kreator daerah untuk berkembang di industri perfilman Indonesia.















