Opini

MBG Pilar Retak Prabowonomics

1
×

MBG Pilar Retak Prabowonomics

Sebarkan artikel ini
MBG

Pertama, Finlandia adalah negara yang memiliki program makan siang gratis. Makan ini diberikan oleh sekolah sejak 1948. Yang menerima seluruh siswa mulai siswa sekolah dasar sampai sekolah menengah. Menu makan bergizi seimbang sesuai dengan resep ahli gizi.

Kedua, India adalah negara dengan jumlah penerima manfaat terbesar di dunia. Angka tembus 120 juta anak di seluruh negeri. Sekolah menyediakan makan siang gratis dengan menu bahan lokal, lengkap dangan susu, sup dan sayur kari.

Ketiga, China adalah negara dengan makan gratis sekolah paling murah, 11 ribu rupiah dalam mata uang Indonesia. Dengan uang sejumlah itu, menunya berisi nasi, lauk daging dan sayuran dalam kotak.

Keempat, rerata program makan gratis sekolah adalah makan siang. Menunya bersumber dari bahan lokal yang memenuhi tuntunan gizi berimbang. Program ini digelar setiap hari dengan sumber dana dari subsidi negara maupun dari orang tua anak.

Laporan World Bank (Bank Dunia) menyebutkan, bahwa di Finlandia, angka stunting relatif rendah, 2,8 persen. Di India, 35 persen, di China, 4,5 persen. Dan kebanyakan, angka stunting di dunia antara 21,9 persen sampai 22,3 persen.

Dengan demikian, angka stunting di Tanah Air masih di bawah rerata dunia. Prabowo tentu bercita-cita, program MBG efektif mengurangi angka stunting yang ada. Terutama di daerah semacam Nusa Tenggara Timur (37,0 persen), Sulawesi Barat (35,4 pesen), Papua Barat Daya (30,5 persen) dan seterusnya.

Sayangnya, jumlah SPPG di NTT masih relatif kecil, 208 dapur yang tersebar di 22 kabupaten/kota. Di Sulawesi Barat, 171 dapur yang tersebar di 4 kabupaten. Dan, di Papua Barat Daya, ada 48 dapur SPPG yang tersebar di 5 daerah. Sudah bisa dipastikan semangat yang diglorifikasi oleh presiden di kantong stunting tersebut sangat tak representatif. Mutlak dibutuh percepatan agar narasi besar itu sesuai dengan bukti di lapangan.

Dari berbagai data di atas, program MBG di dirinya mengandung problem implementasi. Para perumus kebijakan kurang menangkap sosiofilosofis dari keberadaan MBG. Demi mengejar jumlah, justru di Pulai Jawa yang digenjot sampai terjadi jual beli titik yang menjadi biang mega korupsi.

Semestinya yang digalakkan adalah daerah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Wilayah ini yang menjadi lumbung malnutrisi yang membutuhkan intervensi kebijakan negara. MBG merupakan salah satu instrumen kebijakan solutif dan efektif untuk human invesment (pembangunan Manusia) di kawasan tersebut.

Memang, Cak Dar selaku anak ideologis Prabowo sekarang memfokuskan pada perluasan pelayanan pada daerah 3 T. Langkah ini sekurangnya dapat memperbaiki MBG sebagai salah satu pilar utama Prabowonomics. Semoga!!!

(*) Adalah Penulis Buku Prabowo Subianto, Jenderal Penakluk Sejarah Presidensial, Pena Salsabila, Jakarta, 2025

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 468x60