Pendidikan

Lebih 50 Persen Lulusan D-IV K3 Unusa Sudah Bekerja Sebelum Wisuda

1
×

Lebih 50 Persen Lulusan D-IV K3 Unusa Sudah Bekerja Sebelum Wisuda

Sebarkan artikel ini
UNUSA

Pengalaman bekerja di puskesmas juga membantu Anis ketika menyelesaikan penelitian. Ia dapat menghubungkan materi perkuliahan dengan kondisi di lapangan, termasuk saat melakukan pengambilan data penelitian di tempat kerja dengan mengikuti prosedur dan perizinan yang berlaku.

“Untungnya kuliah di UNUSA banyak yang dilakukan secara online, jadi lebih membantu saya dalam membagi waktu. Kalau ada praktik tetap harus datang langsung, tetapi pekerjaan di puskesmas juga bisa saya sesuaikan, termasuk ketika mengambil data untuk penelitian,” jelas Anis.

Bagi Anis, melanjutkan pendidikan dari D3 ke jenjang S1 tidak hanya berkaitan dengan perolehan gelar. Perkuliahan di Unusa, menurut dia, memberikan perspektif baru mengenai bidang gizi yang dapat diterapkan dalam pekerjaannya.

“Setelah kuliah S1 di UNUSA, saya merasa mendapatkan perspektif baru tentang gizi. Jadi bukan hanya ilmu yang saya dapatkan saat D3, tetapi ada pemahaman baru yang kemudian bisa saya terapkan juga di tempat kerja,” tuturnya.

Dalam wisuda ke-22 tersebut, Unusa mewisuda 1.038 mahasiswa. Dari jumlah itu, terdapat 14 wisudawan non-Muslim. Sebanyak 11 orang atau 78,6 persen di antaranya meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.

Meylani Fernanda Bessie, salah seorang wisudawan asal Kupang, merupakan anak tunggal sekaligus lulusan pertama di keluarganya. Ia memilih Unusa karena menyediakan kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang menurutnya memudahkannya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja.

Meylani juga merasakan dukungan dari dosen selama menjalani perkuliahan. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika ia diminta memimpin doa dengan tata cara agama Kristen Protestan sebelum perkuliahan dimulai.

“Pengalaman saya yang paling mengesankan adalah ketika diminta memimpin doa dengan ajaran agama Kristen Protestan sebelum memulai perkuliahan,” ungkap Meylani.

Pengalaman mengenai lingkungan perkuliahan juga disampaikan Maria Dolorosa Gale. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara sekaligus lulusan pertama di keluarganya, Maria memilih Unusa karena status akreditasi Unggul dan kualitas pendidikannya.

Selama kuliah, Maria mengaku semakin mengenal mahasiswa dari agama lain. Ia juga merasakan bahwa dosen tidak membedakan mahasiswa berdasarkan keyakinan.

“Dosen dan mahasiswa memiliki toleransi yang tinggi. Dosen juga tidak membeda-bedakan mahasiswa,” katanya.

Sementara itu, Maria Franciska Xaveria memilih Unusa setelah mencari informasi dari sejumlah alumni. Sebelum mendaftar, ia secara khusus menanyakan pengalaman mahasiswa non-Muslim yang berkuliah di Unusa.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 468x60