Terkini

Profesor M Nuh: Muktamar NU ke-35 Harus Jadi Ruang Titik Temu

10
×

Profesor M Nuh: Muktamar NU ke-35 Harus Jadi Ruang Titik Temu

Sebarkan artikel ini
YARSIS
Ketua YARSIS, profesor Muhammad Nuh, saat wawancara.

Menurut Muhammad Nuh, pemilihan lokasi tersebut memiliki makna tersendiri. Para peserta diharapkan dapat mengambil keberkahan dari para muassis NU sekaligus menjaga semangat kebersamaan selama Muktamar berlangsung.

“Kita ingin mendapatkan, mencari keberkahan dari para muasis kita sehingga semangatnya harus kita jaga, semangat senang, semangat bahagia, semangat gembira, semangat guyub, semangat bermusyawarah, sehingga nanti segala keputusannya itu keputusan yang terbaik,” tuturnya.

Dari sisi pengamanan, panitia juga telah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang tidak diinginkan. Pengamanan akan melibatkan sejumlah unsur, baik dari internal pondok maupun organisasi NU.

Muhammad Nuh mengatakan pengamanan di dalam lingkungan pondok akan melibatkan unsur keamanan pondok sebagai bentuk penghargaan kepada tuan rumah. Pengamanan tersebut akan didukung Banser, Ansor, Pagar Nusa, dan unsur lainnya.

“Intinya yang di dalam adalah nanti kita libatkan pengamanan dari unsur pondok. Kita ingin memberikan penghargaan secara khusus, memberikan kesempatan pada tuan rumah, tapi di-backup oleh organisasi kita sendiri baik Banser maupun Ansor dan Pagar Nusa dan yang lainnya,” ujarnya.

Selain unsur internal, pengamanan juga akan melibatkan TNI dan Polri, terutama berkaitan dengan protokol keamanan Presiden yang dijadwalkan hadir dalam pembukaan Muktamar.

Di sisi lain, panitia juga berupaya mengelola perbedaan pandangan yang muncul dalam pembahasan materi Muktamar. Sejumlah perbedaan disebut mulai diurai melalui halaqah dan pramuktamar.

Bagi Muhammad Nuh, perbedaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Muktamar. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan menghilangkan perbedaan, melainkan menyiapkan ruang persamaan yang lebih besar.

“Karena Muktamar itu intinya tempat bertemunya perbedaan, maka kita harus siapkan ruang persamaannya. Jadi kita kelola ruang persamaannya. Ruang persamaannya harus lebih besar daripada ruang perbedaannya,” kata dia.

Ia menegaskan, proses tersebut diarahkan untuk menemukan titik temu, bukan mempertentangkan kekuatan argumen.

Setiap pandangan diharapkan dapat saling melengkapi sehingga keputusan yang lahir tidak menempatkan salah satu pihak sebagai pihak yang kalah atau menang.

“Kita ingin mencari titik temu dari perbedaan, dan kita tidak ingin adu kuat argumen, tetapi ingin saling memperkuat,” ujar Muhammad Nuh.

Menurut dia, berbagai pandangan yang berbeda dapat dicari kekuatannya untuk kemudian disatukan melalui musyawarah.

Dengan pendekatan itu, keputusan Muktamar diharapkan dapat diterima bersama tanpa menghadirkan kesan adanya pihak yang dikalahkan atau dimenangkan.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60