Keluhan tersebut disampaikan kepada Anggota Komisi XI DPR RI sekaligus Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Andreas Eddy Susetyo. Anggota legislatif dari Fraksi PDIP itu turun langsung ke Koperasi Primkopti Bangkit Usaha-Sentra Industri Keripik Tempe Kampung Sanan, Kota Malang, untuk melihat kondisi ekonomi mikro di kawasan tersebut.
Para perajin berharap kunjungan itu tidak berhenti pada diskusi. Mereka menginginkan kebijakan yang dapat memberikan perlindungan dalam jangka panjang ketika harga bahan baku mengalami gejolak.
Salah satu usulan yang mengemuka adalah pemberian insentif yang lebih serius kepada petani lokal agar kembali menanam kedelai. Para perajin juga berharap pemerintah memiliki kebijakan mitigasi yang dapat melindungi usaha mereka dari dampak perubahan nilai tukar.
Andreas mengatakan kunjungannya merupakan upaya untuk melihat secara langsung dampak pelemahan Rupiah terhadap pelaku usaha kecil. Ia tidak ingin kondisi ekonomi mikro hanya dibaca melalui laporan formal tanpa melihat pengalaman para pelaku usaha di lapangan.
“Bukan laporan formal di atas meja, saya ingin mendengar langsung dari tangan-tangan yang setiap hari mengolah kedelai menjadi tempe. Setiap suara dan aspirasi Bapak/Ibu akan saya bawa sebagai bahan perjuangan di parlemen. Mulai daristabilitas harga, perlindungan daya beli, dan insentif pertanian,” papar Andreas.
Bagi Andreas, aspirasi para pelaku usaha di Kampung Sanan dapat menjadi bahan dalam pembahasan kebijakan di parlemen. Persoalan stabilitas harga, daya beli, dan insentif sektor pertanian menjadi sejumlah hal yang menurut dia perlu mendapat perhatian.
Selain membahas kenaikan harga kedelai, kunjungan tersebut juga digunakan untuk mengevaluasi dampak program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap pelaku usaha di tingkat akar rumput.
Andreas ingin mengetahui apakah program MBG dapat membuka peluang penyerapan produk tempe lokal atau justru menciptakan dinamika baru yang mempengaruhi daya beli konsumen rumah tangga di pasar tradisional.
“Kami ingin mendengar langsung, apakah MBG membuka peluang bagi pengrajin, atau justru mengganggu keseimbangan pasar yang selama ini menjadi nafas hidup UMKM. Maka perlu memastikan bahwa program pemerintah bersinergi dengan UMKM lokal, bukan malah mematikan geliat pasar tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi warga Sanan,” tandas dia.
Di Kampung Sanan, kenaikan harga kedelai kini tidak hanya berkaitan dengan harga bahan baku. Bagi ratusan perajin yang menggantungkan produksi dari komoditas tersebut, perubahan harga juga berhubungan langsung dengan biaya produksi dan kemampuan mempertahankan harga jual di tengah konsumen yang sensitif terhadap kenaikan harga.


















