BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari transformasi perguruan tinggi. Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026, kampus ini mengirim 604 mahasiswa ke berbagai kawasan di Surabaya dengan mandat yang melampaui pelaksanaan program akademik, yakni membangun solusi yang dapat berlanjut setelah masa pengabdian berakhir.
Sebanyak 604 mahasiswa dari seluruh fakultas dilepas Rektor Unusa Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, di halaman Tower Kampus B Unusa, Jemursari, Jumat (24/7/2026).
Mereka akan menjalankan KKN bertema Unusa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat melalui Transformasi Kesehatan, Pendidikan, dan Bisnis Digital Berkelanjutan.
Bagi Tri Yogi, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan. Kampus, menurut dia, harus mampu menghadirkan manfaat yang dapat diukur melalui perubahan di tengah masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak boleh berdiri sebagai menara gading yang tampak indah, tetapi tidak berdampak bagi masyarakat. KKN adalah salah satu cara membuktikan bahwa ilmu pengetahuan harus hadir untuk menyelesaikan persoalan nyata,” katanya.
Karena itu, ia meminta mahasiswa memandang KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan ruang belajar sekaligus ruang pengabdian yang menguji kapasitas intelektual, sosial, dan moral.
Dalam pembekalannya, Tri Yogi menitikberatkan tujuh nilai yang harus menjadi pegangan peserta. Integritas ditempatkan sebagai fondasi utama. Mahasiswa diminta menjaga nama baik Unusa sekaligus menunjukkan profesionalisme selama berinteraksi dengan masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya etos kerja, kemampuan beradaptasi, serta sikap tawadu dalam menghadapi dinamika sosial di lapangan.
Menurutnya, keberhasilan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh kualitas program, tetapi juga oleh kemampuan mahasiswa membangun kepercayaan masyarakat.
Selain itu, peserta diminta menjunjung tinggi adab dan menjaga etika pergaulan. Pesan tersebut berkaitan dengan komitmen Unusa terhadap pencegahan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi, termasuk selama mahasiswa menjalankan aktivitas di lokasi KKN.

Rektor juga menggarisbawahi pentingnya soliditas antartim. Ia menilai tantangan di lapangan tidak dapat diselesaikan secara individual, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat antarmahasiswa maupun dengan masyarakat.
KKN tahun ini dipusatkan di Kota Surabaya melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA). Kolaborasi tersebut menjadi landasan dalam menentukan lokasi sekaligus tema pengabdian berdasarkan kebutuhan setiap wilayah.
Salah satu fokus program ialah transformasi digital yang berkelanjutan. Mahasiswa akan mendampingi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar lebih adaptif terhadap pemanfaatan teknologi informasi, mulai dari pengelolaan usaha hingga pemasaran digital.
Di saat yang sama, mereka juga menjalankan program di bidang kesehatan dan pendidikan yang disesuaikan dengan hasil pemetaan persoalan masyarakat.
Wakil Rektor III Unusa Prof. Dr. Bambang Sektoari Lukiswanto, mengatakan seluruh peserta merupakan mahasiswa semester enam dari berbagai fakultas.
Mereka akan ditempatkan di 42 RW yang tersebar di Kelurahan Kapasari, Nginden Jangkungan, Kedurus, Krembangan Utara, Nyamplungan, Wonorejo, dan Tegalsari.
Menurut Bambang, penempatan mahasiswa tidak dilakukan secara acak. Bersama BRIDA, Unusa telah menyusun pemetaan persoalan di setiap wilayah sehingga program kerja yang dijalankan lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin dampak KKN tidak berhenti ketika mahasiswa kembali ke kampus. Program yang disusun harus memiliki keberlanjutan karena dibangun dari hasil survei dan kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, KKN diposisikan sebagai ruang integrasi antara pendidikan, riset, dan pengabdian.
Mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga menghasilkan model pemberdayaan yang dapat diteruskan oleh masyarakat bersama pemerintah daerah setelah masa pengabdian berakhir.


















