BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Deru mesin jahit terdengar bersahutan dari sebuah rumah produksi sederhana di sudut Kabupaten Jombang. Di antara gulungan kain batik berwarna-warni dan benang yang tersusun rapi, sejumlah perempuan muda tampak tekun menyelesaikan pekerjaannya.
Sebagian besar dari mereka adalah lulusan SMA yang sebelumnya belum memiliki pekerjaan. Tempat itu bukan sekadar ruang produksi batik. Bagi mereka, rumah produksi tersebut menjadi pintu pertama menuju dunia kerja.
Di balik aktivitas itu berdiri Dora Maharani, anggota DPRD Jombang yang akrab disapa Mbak Dora. Lima tahun lalu, ketika pandemi Covid-19 melanda dan banyak aktivitas masyarakat terhenti, ia justru memulai sebuah usaha dengan memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahnya.
Usaha itu kini dikenal dengan nama Batik Sangrani. Awalnya, Mbak Dora hanya ingin menyalurkan kecintaannya pada seni sekaligus membangun usaha mandiri. Ia belajar memahami proses produksi batik, merancang motif, hingga mengembangkan bordir yang menjadi ciri khas produknya.
“Alhamdulillah usaha ini sudah berjalan sekitar lima sampai enam tahun. Dari awal memang ingin punya usaha sendiri karena saya senang seni. Beberapa desain dan bordir juga saya kerjakan sendiri,” ujar Mbak Dora saat ditemui di rumah produksinya.
Di ruangan yang sederhana tersebut, sejumlah mesin jahit berjajar. Rak-rak penyimpanan dipenuhi produk yang siap dipasarkan. Suasana terasa hangat dan akrab, jauh dari kesan pabrik besar yang kaku.
Namun, yang menarik bukan hanya soal produksi batiknya. Sejak awal, Mbak Dora memiliki tujuan lain yang lebih besar. Ia ingin membuka kesempatan bagi perempuan muda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Keresahan itu muncul dari kondisi yang sering ia temui di lingkungan sekitar. Banyak lulusan sekolah menengah yang belum memiliki keterampilan khusus maupun akses untuk masuk ke dunia kerja.
Dari situlah muncul gagasan untuk merekrut para perempuan muda dan memberikan pelatihan terlebih dahulu sebelum mereka bekerja.
“Memang dari awal saya niatkan untuk menarik kalangan pelajar atau yang baru lulus sekolah. Mereka kami latih dulu, kemudian setelah memiliki kemampuan bisa langsung bekerja,” katanya.
Pelatihan yang diberikan berlangsung sekitar lima hingga enam bulan. Selama masa itu, para peserta belajar berbagai keterampilan, mulai dari menjahit, membordir, hingga memahami proses produksi pakaian batik.
Kini, sebagian besar pekerja di Batik Sangrani merupakan perempuan dari kalangan Generasi Z.
Di rumah produksi tersebut, sedikitnya enam pekerja aktif terlibat dalam proses produksi. Di luar itu masih ada tenaga lain yang bekerja dari rumah, termasuk bagian administrasi dan pemasaran.
Salah satu di antaranya adalah Alfin Alviah, perempuan muda asal Kecamatan Peterongan. Ia menjadi saksi bagaimana usaha kecil itu tumbuh bersamaan dengan perjalanan kariernya.
Lima tahun lalu, Alfin datang sebagai peserta pelatihan. Tak lama berselang usai ikuti pelatihan, ia langsung menjadi bagian dari tim produksi yang membantu menjalankan roda usaha Batik Sangrani milik pemilik nama lengkap Dora Maharani.
“Sudah lima tahun bekerja di sini. Dulu ikut pelatihan sekitar lima bulan. Senang karena setelah dilatih langsung bisa bekerja,” ujar Alfin sambil tersenyum.
Bagi Alfin, kesempatan itu bukan hanya soal pekerjaan. Ia memperoleh keterampilan yang sebelumnya tidak dimiliki dan menjadi bekal untuk masa depan.
Seiring waktu, Batik Sangrani terus berkembang. Jika pada awal berdiri hanya melayani pasar terbatas, kini produk-produknya telah menjangkau berbagai daerah melalui media sosial dan marketplace.
Pesanan datang hampir setiap hari, tidak hanya dari Jombang, tetapi juga dari Surabaya, Malang, Mojokerto, hingga sejumlah kota lainnya.
“Alhamdulillah sekarang setiap hari ada penjualan. Sebagian besar pesanan datang melalui online shop,” kata Mbak Dora.
Di tengah berkembangnya usaha tersebut, ia mengaku tetap memegang prinsip yang sama seperti saat pertama kali memulai. Seperti yang diungkapkan, usaha tidak hanya mengejar perihal keuntungan, tetapi juga harus memberi manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
Karena itu, ia berharap semakin banyak anak muda, terutama perempuan, yang berani mencoba berwirausaha dan tidak takut memulai dari langkah kecil.
Menurutnya, peluang sering kali hadir bagi mereka yang mau belajar, mencari informasi, dan terus mengasah kemampuan.
“Yang penting jangan pernah lelah belajar. Ketika usaha dijalankan dengan sungguh-sungguh dan manajemennya baik, insyaallah akan terus berkembang. Selain itu, jangan lupa untuk selalu berbuat baik kepada orang-orang di sekitar,” ujarnya.
Di rumah produksi sederhana itu, kisah tentang batik rupanya bukan hanya soal kain dan motif. Di balik setiap jahitan, tersimpan cerita tentang kesempatan, kemandirian, dan harapan bagi perempuan-perempuan muda yang sedang merintis masa depannya.


















