BERITABNGSA.ID, LUMAJANG – Gerakan masif mendorong sertifikasi halal di Kabupaten Lumajang mulai terasa nyata. Minggu pagi (10/5/2026), Halal Center Cendekia Muslim (HCCM) Cabang Kabupaten Lumajang turun langsung “menyisir” pelaku UMKM di kawasan GM Plaza, Desa Labruk Lor.
Tak sekadar sosialisasi, mereka membuka open table sekaligus melakukan pendampingan konkret proses produk halal.
Puluhan pelaku UMKM tampak memadati stan layanan yang dijaga para Pendamping Proses Produk Halal (P3H) HCCM. Mereka datang dengan satu tujuan: memastikan produk yang dijual tidak hanya laris, tetapi juga legal secara halal.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Di tengah semakin ketatnya implementasi kewajiban sertifikasi halal nasional, langkah HCCM dinilai sebagai “alarm keras” bagi pelaku usaha yang masih abai.
“Ini bukan lagi pilihan, tapi kewajiban. Pelaku UMKM harus mulai sadar bahwa label halal akan menentukan daya saing produk mereka ke depan,” ujar salah satu anggota P3H HCCM, Toyibaturr Rochmah, saat di lokasi kegiatan.
UMKM mulai tersadar, tapi masih banyak yang tertinggal. Dari pantauan di lapangan, antusiasme pelaku usaha cukup tinggi. Namun di balik itu, fakta mencemaskan juga terungkap masih banyak produk yang beredar tanpa label halal resmi.
Salah satu pelaku UMKM yang ikut pendampingan mengaku baru memahami alur sertifikasi halal secara utuh setelah datang ke kegiatan tersebut.
“Saya kira rumit dan mahal, ternyata ada jalur pendampingan UMKM gratis. Ini sangat membantu kami pelaku usaha kecil,” ungkapnya.
GM Plaza tegas, produk tanpa label halal, siap-siap tersisih. Sikap tegas justru datang dari pengelola pusat perbelanjaan. Manager GM Plaza Labruk Lor, Rina, menegaskan bahwa pihaknya telah memberi sinyal kuat kepada seluruh pelaku UMKM yang menitipkan produk.
“Kami sudah sampaikan, kalau ingin menitipkan produk di sini, harus ada label halal. Ini bentuk komitmen kami untuk melindungi konsumen,” tegas Rina kepada wartawan.
Tak hanya imbauan, GM Plaza juga mulai menerapkan langkah konkret dengan memisahkan produk yang sudah berlabel halal dan yang belum.
“Kami sudah pisahkan produk halal dan non-halal agar jelas bagi konsumen. Ini juga sebagai dorongan agar pelaku usaha segera mengurus sertifikasinya,” ujarnya.
Rina juga menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan HCCM. Menurutnya, kolaborasi seperti ini sangat dibutuhkan untuk mempercepat kesadaran pelaku usaha.
“Atas nama pribadi dan pelaku usaha, kami sangat mendukung. Ini langkah nyata yang langsung dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Sinyal keras untuk UMKM Lumajang. Langkah HCCM ini dinilai sebagai bentuk intervensi strategis di tengah tantangan implementasi kewajiban halal yang kerap tersendat di tingkat daerah.
“Dengan turun langsung ke titik-titik aktivitas ekonomi seperti GM Plaza, pendekatan jemput bola dinilai lebih efektif dibanding sekadar sosialisasi formal,” papar Kepala Cabang HCCM Kabupaten Lumajang, Achmad Fuad Afdlol.
Namun demikian, tantangan besar masih membayangi. Tanpa kesadaran kolektif dan dukungan berkelanjutan, bukan tidak mungkin banyak UMKM akan “gugur” dari persaingan pasar hanya karena persoalan label halal.
Kegiatan di Labruk Lor ini menjadi pesan jelas: era produk tanpa kejelasan halal perlahan akan ditinggalkan. Dan bagi UMKM Lumajang, pilihan hanya dua berbenah atau tersingkir.


















