BERITABANGSA.ID, SIDOARJO – Reaksi keras datang dari kader Partai NasDem Kabupaten Sidoarjo atas sejumlah pemberitaan majalah Tempo yang dinilai tidak proporsional dan berpotensi mendeskreditkan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, serta institusi partai secara keseluruhan.
Sebagai bentuk sikap tegas, sekitar 207 kader NasDem Sidoarjo bergerak secara iring-iringan dari Kantor DPD Partai NasDem Sidoarjo menuju Kantor DPW Partai NasDem Jawa Timur. Kehadiran mereka merupakan bentuk penyampaian aspirasi sekaligus dorongan agar DPW NasDem Jawa Timur segera menindaklanjuti persoalan tersebut secara serius dan terukur.
Melalui surat terbuka yang disampaikan, Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Sidoarjo, Muh Zakaria Dimas Pratama, menegaskan bahwa Kritik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan demokrasi. Ia menjadi penyeimbang, pengingat, sekaligus ruang koreksi bagi setiap kekuatan politik. Namun ketika kritik kehilangan proporsi dan bergeser menjadi insinuasi yang merendahkan, maka ia bukan lagi menjalankan fungsi kontrol sosial, melainkan berubah menjadi alat pembentukan opini yang menyesatkan.
“Kami tidak anti kritik. Kami justru menjunjung tinggi kebebasan pers sebagai pilar demokrasi. Tetapi kebebasan itu harus berjalan seiring dengan tanggung jawab etik, kejujuran, dan keberimbangan,” tegasnya, Rabu, (16/04/2026).
Ia menilai sejumlah pemberitaan yang dimuat tidak sepenuhnya mencerminkan fakta secara utuh dan cenderung membangun framing yang merugikan. Hal ini dinilai berpotensi memengaruhi persepsi publik secara tidak berimbang.
Dalam pernyataannya, kader NasDem Sidoarjo juga menunjukkan soliditas dan loyalitas tinggi dalam menjaga kehormatan partai serta kepemimpinan nasional.
“Siapa pun yang menyerang Ketua Umum kami, berarti berhadapan dengan seluruh kader NasDem se-Indonesia! Di Jawa Timur kami berdiri tegak—loyal, solid, dan tidak akan membiarkan kehormatan pimpinan kami diinjak-injak!,” cetus Dimas
Lebih lanjut, Zakaria Dimas menegaskan bahwa Partai NasDem bukanlah entitas bisnis, melainkan gerakan politik yang lahir dari semangat perubahan.
“NasDem bukan perusahaan! NasDem adalah gerakan perubahan! Kami kader di Jawa Timur tahu betul bagaimana perjuangan ini dibangun dari nol—dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat! Jangan pernah merendahkan perjuangan kami dengan framing yang menyesatkan!,” pintanya.
Meski menyampaikan kritik keras, NasDem Sidoarjo menegaskan tetap menjunjung tinggi etika demokrasi dan membuka ruang dialog yang sehat. Aksi yang dilakukan pun ditegaskan berlangsung secara damai, tertib, dan bermartabat.
“Kami tidak membungkam. Kami meluruskan. Kami tidak menutup ruang dialog, justru kami membuka ruang klarifikasi yang sehat, terbuka, dan beradab,” lanjutnya.
Dalam aksinya, kader Partai NasDem Sidoarjo juga menyampaikan sejumlah tuntutan tegas sebagai bentuk respons atas pemberitaan yang dinilai tidak proporsional. Mereka menyatakan keberatan atas konten pemberitaan yang dianggap tidak menjunjung tinggi etika jurnalistik serta berpotensi menyesatkan opini publik.
Kader NasDem mendesak Media Tempo untuk segera menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan tertuliskepada Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, serta seluruh kader NasDem di Indonesia. Selain itu, mereka juga meminta Dewan Pers untuk bertindak tegas dalam menindaklanjuti persoalan ini.
Tidak hanya itu, massa aksi turut mendorong agar pihak terkait menjatuhkan sanksi tegas, hingga kemungkinan penonaktifan, apabila terbukti terjadi pelanggaran serius terhadap prinsip jurnalistik. Mereka juga menegaskan pentingnya proses hukum yang adil dan transparan guna menjaga marwah pers sekaligus kepercayaan publik terhadap informasi yang disampaikan.
Sebagai penutup, pihaknya menegaskan komitmen untuk terus mengawal demokrasi yang beretika dan berbasis pada kebenaran.
“Kebenaran tidak boleh kalah oleh narasi yang dipaksakan. Demokrasi tidak boleh dirusak oleh praktik pemberitaan yang mengabaikan etika,” pungkasnya.


















