BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Isu kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (LPG subsidi) yang belakangan meresahkan warga Kabupaten Lumajang direspon cepat Polres Lumajang. Kamis (9/4/2026), jajaran Polres melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) hingga agen distribusi.
Langkah ini dilakukan untuk membongkar fakta di balik keresahan publik yang menyebut “gas melon” mulai sulit didapat.
Alhasil, menurut Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar melalui Kasat Reskrim AKP Pras Ardinata, stok LPG 3 kilogram di SPBE dalam kondisi aman dan terkendali.
“Petugas telah berkoordinasi dengan pihak SPBE dan memastikan proses pengisian berjalan lancar,” tegas AKP Pras Ardinata.
Pengecekan dilakukan di dua titik vital distribusi, yakni SPBE PT Sinar Agung Putra Abadi di Kelurahan Jogotrunan dan SPBE PT Sentosa Gasindo Raya di Desa Selokgondang. Selain itu, polisi juga mendatangi Agen LPG PT Energi Putra Hari di kawasan Jalan PB Sudirman, Tompokersan.
Dari hasil sidak, terungkap bahwa distribusi LPG berjalan masif setiap hari. Dalam kondisi normal, SPBE di Lumajang mampu menyalurkan 23 – 25 truk per hari, setara dengan 15.000 – 17.000 tabung LPG 3 kg.
Tak hanya itu, stok cadangan pun masih tergolong besar yaitu SPBE PT Sinar Agung Putra Abadi: ± 50.000 kilogram dan SPBE PT Sentosa Gasindo Raya: ± 37.000 kilogram.
“Keduanya dalam kondisi aman, tidak ada indikasi kekurangan pasokan dari hulu,” jelas Pras.
Meski stok di hulu aman, polisi menemukan adanya sedikit hambatan di tingkat agen. Di Agen LPG PT Energi Putra Hari, terjadi keterlambatan pasokan. Sehingga bukan karena kelangkaan.
“Kendala terjadi karena antrean pengisian di SPBE dan tingginya permintaan dari pangkalan,” ungkap salah satu perwakilan agen.
Meski demikian, distribusi ke pangkalan disebut tetap berjalan dan tidak sampai terhenti.
Lalu, kenapa masyarakat merasa gas langka?
Polres Lumajang mengungkap dugaan kuat bahwa fenomena ini dipicu oleh lonjakan konsumsi dan panic buying.
“Kemungkinan terjadi karena pemakaian meningkat dan pembelian lebih dari satu tabung per orang,” beber AKP Pras Ardinata.
Artinya, kelangkaan yang dirasakan warga bukan karena stok habis, melainkan distribusi yang tidak merata akibat pembelian berlebih.
Polisi pun mengeluarkan imbauan tegas kepada masyarakat agar tidak membeli LPG subsidi secara berlebihan.
“Kami minta masyarakat membeli sesuai kebutuhan. Jangan sampai terjadi penumpukan yang justru memicu kepanikan,” pungkasnya.
Situasi ini menjadi peringatan serius bahwa perilaku konsumsi masyarakat bisa berdampak besar terhadap stabilitas distribusi barang subsidi. Jika tidak dikendalikan, “kelangkaan semu” bisa berubah menjadi krisis nyata.


















