BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjalin kerja sama strategis dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), Kamis (5/3/2026).
MoU itu untuk memperkuat kontribusi perguruan tinggi guna mendukung pembangunan daerah berbasis riset, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.
Sekretaris Daerah Pemprov Sulsel, Jufri Rahman, menyatakan provinsi yang mengusung motto Toddopuli tersebut memiliki potensi sumber daya alam yang besar.
Wilayahnya yang terdiri atas ratusan pulau, ditopang kawasan industri serta pelabuhan yang terus berkembang, dinilai menyimpan peluang strategis untuk memperkuat peran Sulawesi Selatan sebagai penggerak perekonomian nasional.
Menurut Jufri, sejumlah sektor strategis di provinsi tersebut membutuhkan penguatan berbasis riset dan teknologi.
Salah satu sektor yang menonjol adalah maritim, khususnya pengembangan industri galangan kapal nasional seperti PT Industri Kapal Indonesia (IKI) yang beroperasi di Makassar.
Industri ini memiliki peran penting dalam menopang aktivitas perkapalan di kawasan timur Indonesia sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah.
Kondisi geografis Sulawesi Selatan yang terdiri atas banyak pulau juga menuntut peningkatan konektivitas transportasi laut.
Jufri menilai penguatan jaringan transportasi antarpulau menjadi kebutuhan mendesak guna mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Karena itu, ia berharap kolaborasi dengan ITS dapat menghadirkan solusi pembangunan berbasis pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan karakter wilayah kepulauan.
Rektor ITS, Bambang Pramujati, menyatakan kampusnya siap berkontribusi dalam berbagai sektor pembangunan di Sulawesi Selatan.
Ia menyebut ITS memiliki keunggulan di bidang kemaritiman dan telah berperan sebagai pusat konsorsium maritim nasional yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi serta industri strategis.
Melalui konsorsium tersebut, ITS membuka peluang dukungan bagi modernisasi desain kapal hingga digitalisasi industri galangan.
Selain sektor maritim, Bambang melihat peluang kerja sama dalam pengembangan transportasi air yang lebih efisien dan berkelanjutan.
ITS memiliki sumber daya akademik yang kuat, termasuk dosen dan peneliti dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam pusat kajian serta fasilitas riset seperti Science Techno Park.
Infrastruktur riset ini, menurutnya, memungkinkan kolaborasi mulai dari tahap perencanaan hingga pengembangan teknologi.
Kerja sama juga terbuka pada sektor agraris melalui pengembangan teknologi pertanian modern. ITS mendorong penerapan konsep smart farming dengan memanfaatkan mekanisasi dan elektrifikasi alat pertanian guna meningkatkan produktivitas lahan serta efisiensi pengelolaan pertanian di Sulawesi Selatan.
Selain pengembangan teknologi, kolaborasi ini mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia. ITS membuka peluang bagi putra-putri berprestasi dari Sulawesi Selatan untuk melanjutkan pendidikan di kampus tersebut.
Salah satu skema yang tengah dipertimbangkan adalah penyediaan jalur penerimaan mahasiswa khusus bagi daerah.
Bambang juga menyebut kerja sama tersebut berpotensi mendorong pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dinilai penting untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset dalam berbagai sektor pembangunan.
Inisiatif ini sekaligus berkaitan dengan agenda global pembangunan berkelanjutan, termasuk tujuan penguatan infrastruktur, industri, inovasi, serta kemitraan pembangunan.


















