Pendidikan

ITS Lahirkan Standar Baru Ruang Paliatif Anak, Integrasikan Cahaya, Warna, dan Emosi

17
×

ITS Lahirkan Standar Baru Ruang Paliatif Anak, Integrasikan Cahaya, Warna, dan Emosi

Sebarkan artikel ini
ITS
Dr Anggra Ayu Rucitra ST MMT (paling kiri) saat melakukan lab internship terkait riset untuk topik disertasinya di Shibaura Institute of Technology, Tokyo, Jepang

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Ruang rumah sakit sering kali identik dengan warna pucat, aroma obat, dan suasana tegang. Bagi anak yang menjalani kemoterapi, kondisi itu bisa memperberat tekanan psikologis. Dari kegelisahan itulah lahir terobosan baru dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Dosen Departemen Desain Interior ITS, Dr Anggra Ayu Rucitra, merumuskan model lingkungan penyembuhan pasien kanker anak melalui pendekatan multisensori adaptif.

Gagasan tersebut ia tuangkan dalam disertasi doktoralnya yang dipertahankan pada sidang promosi doktor di Departemen Arsitektur ITS, Senin (9/2/2026).

Riset berjudul Model Lingkungan Penyembuhan Pasien Kanker Anak Melalui Stimulasi Multisensori Adaptif itu dibimbing oleh Ir Purwanita Setijanti sebagai promotor dan Dr Asri Dinapradipta sebagai ko-promotor.

Anggra mengangkat teori multisensory architecture sebagai fondasi utama. Intinya, ruang harus mampu menghadirkan pengalaman menyeluruh—tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan tubuh dan emosi penggunanya.

Ia menekankan, elemen seperti pencahayaan, warna, tekstur, material, suhu, hingga kualitas kenyamanan ruang berperan besar dalam membentuk persepsi anak terhadap proses perawatan.

“Ruang fasilitas kesehatan bisa memengaruhi kondisi psikologis dan mendukung proses penyembuhan, terutama dalam konteks palliative care,” ujarnya.

Motivasi riset itu lahir dari pengalaman personal. Anggra pernah menyaksikan perjuangan anak sahabatnya melawan kanker.

Ia melihat langsung bagaimana ruang perawatan yang terasa dingin dan monoton dapat memperburuk kecemasan pasien kecil.

Dari sana, ia mulai mempertanyakan: apakah desain interior bisa menjadi bagian dari terapi?

Untuk memperdalam kajiannya, Anggra menjalani lab internship di Shibaura Institute of Technology, Tokyo, Jepang, pada Februari 2023.

Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya dalam menyusun model integratif antara faktor internal pasien—seperti kondisi emosi dan respons sensorik—dengan atribut fisik lingkungan.

Hasilnya, ia merumuskan pedoman berbasis evidence-based design untuk ruang kemoterapi anak di Indonesia. Model itu memuat daftar faktor multisensori spesifik yang dapat diterapkan secara kontekstual.

Bukan sekadar mempercantik ruang, tetapi menghadirkan suasana yang menenangkan, adaptif, dan inklusif bagi anak dengan kebutuhan khusus.

Secara akademik, riset ini mempertegas peran desain interior dalam ranah kesehatan.

Secara praktis, model tersebut berpotensi menjadi referensi bagi arsitek, desainer, dan pengelola rumah sakit dalam merancang fasilitas paliatif anak yang lebih manusiawi.

Inovasi ini juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals, khususnya poin ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta poin ke-10 mengenai pengurangan kesenjangan.

Pendekatan inklusif menjadi kunci agar layanan kesehatan tidak hanya unggul secara medis, tetapi juga sensitif terhadap kebutuhan emosional pasien.

Di tengah tantangan peningkatan kasus kanker anak dan keterbatasan fasilitas ramah anak di Indonesia, riset doktoral ini menawarkan arah baru.

Bahwa penyembuhan bukan hanya soal obat dan tindakan medis, melainkan juga tentang bagaimana ruang diciptakan untuk memberi rasa aman, harapan, dan kekuatan.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60