BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Program Presiden RI, Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai sorotan. Kali ini, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Subchan menilai program membuka lapangan kerja bagi orang tua murid jauh lebih berdampak dibanding memberi makan kepada siswa.
Menurut Subchan, persoalan utama yang masih dihadapi Lumajang hingga kini adalah keterbatasan lapangan pekerjaan. Karena itu, kebijakan yang mendorong penciptaan kerja dinilai lebih menyentuh akar masalah ekonomi masyarakat.
“Kalau menurut saya, lebih baik membuka lapangan kerja bagi orang tua murid. Di Lumajang ini masih sangat butuh lapangan pekerjaan,” kata Subchan, Jumat (6/2/2026).
Ia menjelaskan, industri di Lumajang saat ini didominasi oleh perusahaan bidang perkayuan. Namun, kondisi itu juga menghadapi tantangan serius karena keterbatasan bahan baku.
“Memang perusahaan di Lumajang paling banyak di bidang perkayuan, tetapi sekarang bahan bakunya sulit diperoleh di Lumajang,” jelasnya.
Meski demikian, Subchan menegaskan peluang kerja tidak selalu harus bergantung pada perusahaan besar. Masyarakat, termasuk wali murid, justru bisa menciptakan lapangan kerja sendiri dengan melihat kebutuhan industri yang ada.
“Lowongan pekerjaan itu sebenarnya tidak hanya bekerja di perusahaan. Lapangan kerja bisa diciptakan sendiri, misalnya dengan melihat kebutuhan bahan baku atau pendukung perusahaan,” tegasnya.
Terkait program pelatihan tenaga kerja, Subchan menyebutkan, tahun ini Disnaker Lumajang hanya menjalankan pelatihan yang berasal dari usulan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) dan sumber dana APBD.
Sementara itu, pelatihan yang biasanya didanai dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tidak berjalan.
“Tahun ini hanya pelatihan dari usulan musrenbang karena dananya dari APBD. Yang dari DBHCHT off,” ujarnya.
Salah satu kegiatan pelatihan yang masih berjalan berada di Kecamatan Randuagung, yakni pelatihan menjahit yang ditujukan untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Pandangan serupa juga disampaikan dai kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) melalui unggahan di media sosialnya.
Dia menilai program MBG akan lebih tepat sasaran jika diarahkan pada penciptaan lapangan kerja bagi wali murid.
“Program MBG itu lebih baik dengan memberikan peluang lapangan pekerjaan kepada wali murid. Itu yang benar,” ujar UAS dalam pernyataannya.
Menurut UAS, urusan makan bergizi sejatinya merupakan tanggung jawab orang tua. Jika orang tua memiliki penghasilan yang layak, maka kebutuhan gizi anak akan terpenuhi dengan sendirinya.
“Makan bergizi itu urusannya orang tua. Biar orang tua yang menyiapkan sendiri. Kalau orang tuanya sudah berpenghasilan, kenapa tidak mau? Pasti mau lah,” tegasnya.
Perdebatan antara pemberian makan bergizi gratis dan pembukaan lapangan kerja ini pun menjadi catatan penting bagi pemerintah pusat dan daerah. Di Lumajang, suara dari lapangan menegaskan bahwa pekerjaan yang layak bagi orang tua dinilai sebagai solusi jangka panjang untuk kesejahteraan keluarga dan pemenuhan gizi anak.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















