
Jika pada masa lalu jihad dilakukan dengan mengangkat senjata, maka pada masa kini jihad diwujudkan melalui ikhtiar menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan bermanfaat bagi negeri.
“Harapan kami, anak-anak terus berkreasi, maju, cemerlang, dan berjuang di bawah panji-panji Nahdlatul Ulama. Mereka adalah santri untuk negeri, yang kelak memberi warna dan kontribusi nyata bagi Indonesia,” kata Rochman.
Selain pertunjukan seni dan budaya, SD Khadijah Wonorejo juga memberikan apresiasi kepada siswa-siswa berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Penghargaan diberikan kepada peserta didik yang menorehkan prestasi di berbagai bidang, seperti pencak silat championship, KSNR 7 dengan raihan Gold Medalist, sepatu roda freestyle, serta kejuaraan lainnya.
Rochman menyebutkan, tingginya prestasi siswa sejalan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap SD Khadijah Wonorejo.
Hingga saat ini, jumlah siswa mencapai 647 anak. Angka tersebut diperoleh melalui proses seleksi ketat pada penerimaan peserta didik baru, mengingat jumlah pendaftar setiap tahun selalu melampaui kapasitas yang tersedia.
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Karena itu seleksi harus dilakukan secara ketat agar kualitas layanan pendidikan tetap terjaga,” ujarnya.
Ketua I Yayasan Khadijah Surabaya, Dr. KH. Abdullah Sani, menilai tingginya kepercayaan publik merupakan amanah yang harus dirawat secara serius oleh seluruh unsur sekolah.
Menurut dia, pelayanan pendidikan harus diberikan dengan sepenuh hati dan tanggung jawab moral, mulai dari pimpinan hingga tenaga pendukung.
“Tingkat kepercayaan masyarakat kepada SD Khadijah Wonorejo sangat tinggi. Ini harus dijaga dengan pelayanan yang maksimal, dengan sepenuh jiwa, agar anak-anak tumbuh dan berkembang sesuai potensi masing-masing,” kata Abdullah Sani.


















