Pendidikan

Dapur PMBA Unusa di Aceh Jadi Model Penguatan Gizi dan Kesehatan Berbasis Komunitas

15
×

Dapur PMBA Unusa di Aceh Jadi Model Penguatan Gizi dan Kesehatan Berbasis Komunitas

Sebarkan artikel ini
Unusa

BERITABANGSA.ID, ACEH – Dapur Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) di wilayah Pantee Lhong, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), menggandeng Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen, menjadi pintu masuk dan model penguatan layanan kesehatan, pemenuhan gizi, dan sanitasi dalam situasi darurat dan pasca bencana.

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menghadirkan inisiatif nyata melalui pembangunan dapur PMBA untuk pemulihan kesehatan masyarakat pascabencana kepada kelompok rentan, mulai dari bayi, anak-anak, ibu hamil dan menyusui, lanjut usia, dan penyandang disabilitas.

Pembangunan Dapur PMBA itu didanai dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), sesuai surat nomor 1737/C3/AL.04/2025.

“Sekaligus menjadi kepercayaan pemerintah terhadap peran strategis perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi konkret atas persoalan kemanusiaan dan kesehatan masyarakat,” ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unusa, Achmad Syafiuddin.

Keberadaan Dapur PMBA selain secara fisik, dapur juga dirancang sebagai ruang aman untuk memastikan bayi dan anak memperoleh asupan gizi sesuai standar kesehatan.

Selain pemenuhan gizi, Dapur PMBA juga diarahkan sebagai pusat edukasi dan praktik sanitasi yang baik di tingkat komunitas.

Achmad Syafiuddin, menegaskan program ini berangkat dari kesadaran akan pentingnya perlindungan kelompok rentan sebagai bagian dari prinsip keadilan sosial.

Dalam situasi bencana maupun pascabencana, kelompok rentan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak, dan paling mudah terabaikan.

“Melalui Dapur PMBA ini, Unusa berupaya memastikan hak dasar, pemenuhan gizi dan kesehatan, terjamin secara layak dan bermartabat,” tegasnya.

Menurut Achmad Syafiuddin, pendekatan program ini bersifat komprehensif dan berkelanjutan. Dapur menjadi pintu masuk bagi program yang lebih luas, yakni penguatan kapasitas masyarakat.

Selain fisik, Tim Unusa juga melakukan edukasi kesehatan dan gizi, pendampingan praktik pemberian makanan bayi dan anak yang tepat, serta penguatan peran masyarakat lokal agar mampu mengelola dan melanjutkan program ini secara mandiri.

“Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan program,,” pungkasnya..

Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, Dapur PMBA tak hanya berfungsi saat bencana, tetapi juga dapat dimanfaatkan saat kondiri normal sebagai pusat layanan gizi berbasis komunitas.

Kelompok rentan dan kondisi keterbatasan mobilitas, kesehatan, dan kebutuhan khusus sering membuat kelompok rentan kesulitan mengakses bantuan. Mereka sering luput dari proses evakuasi dan distribusi bantuan.

Sebagai Ketua Center for Environmental Health of Pesantren (CEHP) Unusa, kata dia, Dapur PMBA di Bireuen dirancang untuk menghadirkan pendekatan yang lebih inklusif.

Selain menyediakan makanan bergizi, dapur ini juga menjadi ruang interaksi, edukasi, serta pemulihan fisik dan psikologis, khususnya bagi ibu dan anak.

Program ini sekaligus menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial.

Dengan mengintegrasikan keilmuan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat, Unusa berkomitmen terus hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat dan mendorong terwujudnya ketahanan kesehatan yang berkeadilan.

Ke depan, Unusa berharap model Dapur PMBA di Kabupaten Bireuen dapat direplikasi di wilayah lain, terutama daerah-daerah dengan tingkat kerentanan bencana tinggi.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60