BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, dari Fraksi PDI Perjuangan menemui petani kopi lokal di Kampung Adat Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.
Di sebuah meja sederhana itu tersaji varian kopi khas Wonosalam. Di sini Wiwin tampak berdialog santai bersama Moch Shobari Karim (30), pelaku UMKM kopi sekaligus pemilik usaha bubuk kopi dan kedai “Sumber Wandhe”.
Sambil menyeruput kopi, Wiwin mencicipi rasa khas kopi lereng Anjasmoro yang asam-manis dengan aroma kuat.
“Rasanya sangat nikmat, ada karakter fruity, asam dan manis yang seimbang. Dari segi rasa maupun kemasan sudah luar biasa. Ini jelas punya daya saing dan sangat cocok dinikmati sambil berdiskusi,” ujar Wiwin.
Namun di balik kualitas rasa yang dinilai mumpuni, Wiwin menemukan persoalan klasik yang masih membelit UMKM kopi lokal, yakni minimnya dukungan pemasaran. Ia mengaku heran, kopi lokal Wonosalam belum banyak hadir di kafe-kafe maupun ruang publik di Jombang.
“Pemasarannya sebenarnya sudah bagus, bahkan tadi disampaikan sudah tembus mancanegara. Tapi ironisnya, dukungan di daerah sendiri masih kurang. Harusnya pemerintah hadir membantu agar kopi lokal Wonosalam bisa masuk kafe-kafe di Jombang. Bahkan instansi pemerintah juga bisa memberi contoh dengan menggunakan produk lokal,” tegasnya.
Wiwin menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan aspirasi UMKM lokal, khususnya agar para pelaku usaha tak ragu bersuara dan semakin berkembang. Ia berharap UMKM di Jombang bisa lebih “vokal” sehingga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekitar.
“Saya punya mimpi UMKM lokal ini jadi vokal. Ketika usaha berkembang dan mampu menyerap tenaga kerja, secara tidak langsung itu juga membawa nama baik daerah dan pemerintah setempat,” jelasnya.
Sebagai bentuk nyata dukungan, Wiwin berencana melibatkan produk UMKM lokal dalam setiap kegiatan yang ia gelar, baik untuk konsumsi makanan maupun minuman. Menurutnya, langkah tersebut penting agar produk lokal tidak kalah oleh produk dari luar daerah.
“Kalau diibaratkan budaya, kalau tidak kita rawat dari sekarang, maka akan tergerus budaya luar. Begitu juga UMKM. Mari kita bersinergi memberdayakan masyarakat dengan cara mencintai dan menggunakan produk lokal,” tandasnya.
Sementara itu, Shobari menceritakan awal mula terjun ke dunia perkopian sejak 2018. Berangkat dari keinginannya memanfaatkan potensi kopi melimpah di lereng Gunung Anjasmoro, ia memilih mendalami proses fermentasi untuk menghasilkan cita rasa kopi yang khas.
Tak instan, Shobari menghabiskan waktu hampir dua tahun untuk belajar dan meneliti proses fermentasi kopi hingga akhirnya fokus mengembangkan usaha bubuk kopi dan kedai pada 2020.
“Di sini ada kopi excelsa, robusta, dan liberica. Semuanya punya karakter rasa berbeda, tapi rata-rata ada fruity-nya. Proses fermentasi sekitar 120 jam. Alhamdulillah, pemasaran sudah tembus ke luar negeri seperti Rusia dan Ukraina,” pungkas Shobari.


















