BERITABANGSA.ID, LUMAJANG — Hujan deras yang mengguyur wilayah lereng Semeru sejak sore hari meredakan erupsi Gunung Semeru. Meski begitu, aktivitas vulkanik sebelumnya membuat warga di beberapa dusun mengungsi lebih awal, menghindari risiko awan panas dan aliran lahar.
Pantauan di lapangan menunjukkan puluhan warga sudah memadati Balai Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, yang malam ini dijadikan posko pengungsian utama.
Kepala Desa Penanggal, Cik Ono, membenarkan keberadaan pengungsi tersebut.
“Benar, sudah ada puluhan warga yang mengungsi, terpantau masih 37 orang. Rata-rata dari wilayah sekitar Gunung Sawur. Kita buka balai desa sebagai sentral pengungsian agar mereka bisa aman dan tenang,” ujarnya, Rabu (19/11/2025) malam.
Menurut warga di lokasi, kelompok pengungsi ini memilih turun lebih cepat karena wilayah mereka termasuk jalur yang rawan terdampak material guguran.
“Tadi sore kondisinya tidak menentu, jadi kami sepakat turun dulu. Lebih baik berjaga-jaga,” kata salah satu warga.
Pemerintah Desa Penanggal langsung bergerak menyiapkan berbagai kebutuhan mendesak bagi para pengungsi.
“Kami sudah siapkan alas tidur, selimut, dan bahan kebutuhan dasar. Keselamatan warga jauh lebih penting. Nanti kalau kondisi benar-benar aman, baru kami persilakan kembali ke rumah,” jelas Cik Ono.
Relawan dan perangkat desa terus memantau perkembangan situasi sambil berkoordinasi dengan BPBD dan PPGA Semeru. Meski hujan lebat membantu meredakan aktivitas vulkanik, aparat tetap mengingatkan warga untuk tidak lengah.
Situasi Semeru yang dinamis membuat aparat keamanan dan pemerintah desa meminta masyarakat tetap tenang namun siaga.
“Kami imbau warga tetap mengikuti informasi resmi dan tidak kembali ke zona rawan sampai dinyatakan aman,” tambah Cik Ono.
Malam ini Balai Desa Penanggal menjadi tempat berlindung sementara bagi warga yang memilih mengungsi lebih awal—sebuah langkah bijaksana di tengah ketidakpastian aktivitas gunung api ini.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.


















