Ia mengungkapkan, gagasan GENTING lahir dari inspirasi Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) di era 1990-an dan dari semangat kedermawanan masyarakat Indonesia yang diakui tertinggi di dunia berdasarkan World Giving Index.
“Indonesia dikenal sebagai bangsa paling dermawan. Sebanyak 66 persen masyarakatnya suka membantu orang yang tidak dikenal. Ini menunjukkan bahwa gerakan kebaikan seperti GENTING akan selalu menemukan jalan,” kata Wihaji.
Menutup sambutannya, Wihaji mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menurunkan prevalensi stunting menjadi 14 persen pada tahun 2029. “Saya yakin, dengan kolaborasi, optimisme, dan keyakinan, Indonesia akan baik-baik saja,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Dra. Maria Ernawati, MM yang mengikuti kegiatan secara daring, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan media, khususnya Tribun Network, dalam menyuarakan dan mengedukasi masyarakat tentang pencegahan stunting.
“Kita berharap angka stunting di Jawa Timur terus menurun dengan peran aktif media, untuk menyuarakan dan memberi edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Maria menjelaskan, selama tiga tahun terakhir terjadi tren penurunan signifikan angka stunting di Jawa Timur.
Berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting tercatat 17,7 persen, turun menjadi 14,7 persen pada SSGI 2024—penurunan sekitar tiga poin.
Menurutnya, keberhasilan tersebut ditopang oleh tiga aspek utama: kolaborasi lintas program pembangunan, partisipasi aktif masyarakat, serta dukungan media.
“Tantangan terbesar di Jawa Timur ada pada empat kluster penyebab stunting, yaitu pola asuh, kemiskinan, faktor bawaan, dan sanitasi. Dari keempatnya, yang paling dominan adalah pola asuh,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal itu, BKKBN Jawa Timur terus memperkuat peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri atas bidan, kader PKK, dan kader KB.
Saat ini terdapat sedikitnya 93 ribu TPK aktif yang memberikan pendampingan kepada keluarga berisiko stunting, terutama calon ibu yang berpotensi melahirkan anak dengan kondisi stunting.
“Di perkotaan, pola pengasuhan sering diserahkan kepada pengasuh atau asisten rumah tangga yang belum terpapar pengetahuan pengasuhan anak. Karena itu, kami mendorong agar para pengasuh juga mendapatkan edukasi pola asuh yang baik dan benar,” tutup Maria.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















