Terkini

Banjir Gula Rafinasi Ribuan Petani Sedih, Gula Petani Tak Terbeli

23
×

Banjir Gula Rafinasi Ribuan Petani Sedih, Gula Petani Tak Terbeli

Sebarkan artikel ini
Gula
Gula Rafinasi yang saat merajai pasar ritel.

BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Ironi besar sedang menimpa ribuan petani tebu di Jawa Timur. Alih-alih menikmati hasil panen, gula kristal putih (GKP) milik petani justru menumpuk tak laku dijual di gudang-gudang pabrik. Penyebabnya, diduga kuat karena “merembesnya” gula kristal rafinasi (GKR) yang seharusnya hanya untuk industri makanan dan minuman, namun kini membanjiri pasar rakyat.

Data di lapangan menunjukkan, kondisi paling mencolok terjadi di Pabrik Gula (PG) Jatiroto, Kabupaten Lumajang. Dari 12 unit gudang berkapasitas 59 ribu ton, kini sudah terisi 37 ribu ton gula, termasuk 8 ribu ton gula petani. Dengan kapasitas produksi mencapai 500 ton per hari, diperkirakan dalam waktu 45 hari gudang akan penuh sesak jika gula tidak segera terserap. Bahkan, PG Jatiroto terpaksa menitipkan stok gulanya ke gudang milik PG Semboro, Kabupaten Jember.

“Gula petani menumpuk di gudang-gudang pabrik gula. Lelang setiap pekan, pedagang tidak ada yang menawar,” ungkap Manager Keuangan dan Umum PT SGN (PG Jatiroto), Apit Eko Prihantono, kepada media ini, Jumat (29/8/2025).

Per 30 Juli 2025, diterangkan Apit, di PG Jatiroto ada sekitar 52 ribu ton gula petani belum terjual. Angka itu diperkirakan melonjak menjadi 65 ribu ton hanya dalam beberapa hari.

“Apa yang terjadi ini ironis. Kita menuju swasembada gula, kok justru gula petani tidak laku,” tegasnya.

Pasar GKP Direbut GKR, Apit menuding masuknya gula kristal rafinasi ke pasar menjadi biang keladi. Gula rafinasi seharusnya khusus untuk industri, namun faktanya justru dijual eceran dengan kemasan kecil 1 kilogram dan bersaing langsung di pasar gula rakyat.

“Pasar GKP direbut GKR. Ini jelas merugikan petani. Negara harus segera bertindak tegas,” katanya lagi.

Persoalan ini bahkan kini masuk ke meja pembahasan Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Diharapkan, ada langkah cepat agar pemerintah membeli gula petani sesuai harga acuan pembelian (HAP) Rp14.500 per kilogram sebagai bentuk proteksi dan keberpihakan pada petani.

Ada kabar baik dari Kementerian Pertanian terkait anggaran Rp1,5 triliun dari Danantara yang akan digunakan untuk membeli gula petani. Namun, dilakukan tanpa pengawasan ketat terhadap peredaran gula rafinasi, kebijakan ini tidak akan banyak membantu.

Pemerintah Pusat turun tangan, Bupati Lumajang, Indah Amperawati atau Bunda Indah, mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang menjanjikan serapan gula petani. Ia menyebut, intervensi negara adalah kunci penyelamatan harga dan motivasi bagi petani untuk tetap berproduksi.

“Petani tebu adalah tulang punggung ekonomi desa kita. Dengan adanya kepastian harga minimal Rp14.500 per kilogram, mereka tidak hanya terbantu menutup biaya produksi, tetapi juga mendapatkan harapan baru,” ujar Bunda Indah, Kamis (21/8/2025) lalu.

Hal senada, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, memastikan pemerintah akan menyerap 1.000 ton gula petani Lumajang dalam 1–2 hari.

“Presiden sudah ada kecenderungan agar harga gula petani dijaga dan jangan sampai anjlok. Ini bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelas Zulkifli Hasan di Surabaya waktu itu.

Petani, Penjaga Masa Depan Bangsa. Bunda Indah menekankan, Lumajang adalah lumbung tebu penting di Jawa Timur. Karena itu, perhatian pemerintah terhadap petani bukan sekadar urusan dagang, tetapi investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

“Petani kita bukan hanya penghasil gula, tapi juga penjaga masa depan bangsa. Jika mereka sejahtera, ekonomi desa tumbuh, pendidikan anak-anak terjamin, dan ketahanan pangan semakin kokoh,” pungkasnya.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60