Pendidikan

Yustina Gemilang: Mengajar dengan Hati, Membangun Karakter Bangsa

24
×

Yustina Gemilang: Mengajar dengan Hati, Membangun Karakter Bangsa

Sebarkan artikel ini
Yunita Gemilang

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Senyum ramah, sorot mata teduh, dan tutur kata lembut menjadi kesan pertama ketika berjumpa dengan Yustina Gemilang.

Seorang pendidik muda yang baru saja resmi dilantik sebagai guru profesional melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (21/8/2025).

Perjalanannya bukan sekadar menempuh pendidikan formal, melainkan perjalanan hidup yang ditempa dari pengalaman mengajar di pedalaman Papua hingga menemukan panggilan sejati sebagai guru yang mengajar dengan hati.

Lahir di Surabaya, 7 Juni 1998, Gemilang sejak kecil sudah menaruh minat pada dunia pendidikan. Namun, titik balik hidupnya hadir saat ia mengajar anak-anak di SD YAPELIN Ob Anggen Dogobak, Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua Pegunungan.

Di tengah keterbatasan fasilitas, ia menyadari bahwa ilmu dan keterampilan yang dimilikinya belum cukup untuk menjawab kebutuhan anak-anak di pedalaman.

“Saya merasa harus melengkapi diri agar bisa melayani mereka dengan lebih baik,” kenangnya.

Kesempatan emas datang ketika ia kembali ke Surabaya. Sang dekan kampus memberi tawaran untuk mengikuti program PPG Prajabatan di Unusa.

Baginya, itu bukan sekadar peluang akademis, melainkan jawaban doa dan jalan untuk memantapkan diri sebagai pendidik. Setelah melalui serangkaian tes, ia dinyatakan lolos dan resmi mengikuti program tersebut.

Lebih dari sekadar pengajar, Gemilang menempatkan profesi guru sebagai panggilan untuk menghadirkan kasih dan nilai kehidupan.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembawa teladan. Saya ingin anak-anak tumbuh dengan integritas dan karakter,” ujarnya, penuh keyakinan.

Kisahnya semakin menarik karena Gemilang adalah seorang non-muslim yang justru menemukan kedalaman nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) selama menempuh pendidikan di Unusa. Pada awalnya ia menganggapnya sekadar kewajiban akademis. Namun, semakin dipelajari, semakin ia merasakan relevansinya dengan kehidupan. Nilai tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), toleransi, dan keadilan menjadi fondasi penting baginya dalam membangun suasana kelas yang inklusif. “Saya belajar melihat perbedaan bukan sebagai penghalang, tetapi sebagai kekayaan yang harus dirawat,” ungkapnya.

Perjalanan akademiknya tidak mudah. Penempatan magang yang jauh membuatnya harus bangun pagi, menempuh perjalanan dengan kereta, dan mengatur keuangan dengan ketat.

Namun, dari situ ia belajar disiplin, prioritas, dan semangat pantang menyerah. Prinsip sederhana yang selalu dipegangnya adalah memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Sikap itu menumbuhkan karakter toleran, sabar, dan terbuka.

Gemilang juga terinspirasi dari sosok Mrs. Magdalena, Dekan FKIP Universitas Kristen Petra, yang ia kenang sebagai pemimpin penuh kasih dan peduli pada mahasiswa.

“Dari beliau saya belajar bahwa kepemimpinan sejati lahir dari hati yang tulus,” katanya.

Kini, setelah resmi dilantik sebagai guru profesional, rasa haru dan syukur menyelimuti dirinya. “Ini bukti perjalanan panjang penuh doa dan perjuangan. Saya siap memasuki babak baru sebagai guru yang mengajar dengan hati,” tuturnya, hangat.

Pesannya untuk generasi muda yang bercita-cita menjadi guru sederhana namun mendalam. Mengajar, katanya, bukan sekadar soal materi, melainkan soal menyentuh hati. Setiap anak adalah pribadi berharga.

Benih yang ditanam guru mungkin tak langsung terlihat hasilnya, tetapi kelak akan tumbuh menjadi generasi emas bangsa.

Kisah Yustina Gemilang menjadi pengingat bahwa guru sejati hadir bukan hanya untuk mengajar, melainkan juga untuk mengasihi, mendampingi, dan menumbuhkan nilai kehidupan. Pendidikan, pada akhirnya, adalah perjalanan hati.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60