BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Reinhard Agusthinus Rumalawang. Dari nama yang disandangnya orang sudah menduga jika dia minoritas di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Reinhard adalah non-muslim yang menjadi salah satu peserta lulusan profesi ners yang dilantik dan diambil sumpahnya pada sumpah profesi di Unusa, Selasa (21/5) siang.
Selain Reinhard, ada Herna Wijayanti dari profesi bidan yang non-muslim yang dilantik dan diambil sumpah profesi.
Reinhard juga minoritas dari sisi gender. Satu angkatan di kelasnya hanya ada 4 laki-laki. Tapi minat pada bidang kesehatan dan ingin membantu banyak orang menjadi motivasi besar pria asal Kepulauan Aru, Maluku ini untuk melanjutkan studinya ke profesi ners.
Meskipun berada dalam kelompok minoritas di profesi yang didominasi oleh perempuan, hal itu tidak menghalangi Reinhard untuk mencapai cita-citanya.
Reinhard bercerita, dia pernah dipandang sebelah mata saat praktik di rumah sakit, karena dirinya seorang pria, bahkan ada yang memanggilnya sebagai “bidan”.
Reinhard menekankan bahwa yang terpenting adalah dedikasi dan passion.
“Jadi perawat itu merupakan panggilan hati, sejak kecil saya ingin jadi dokter atau perawat karena memang saya ingin bantu banyak orang terutama mengenai kesehatan. Walaupun sempat diremehkan bahkan di bully, tapi itu tidak mematahkan tekad saya,” ujarnya.
Selama ini, Reinhard telah memiliki pengalaman menjadi perawat di beberapa tempat. Ia pernah bekerja di suatu home care, pernah juga bekerja di Klinik Pusura Rungkut Surabaya dan Rumah Sakit St. Vincentius a Paulo Roomsch Katholiek Ziekenhuis (RKZ) Surabaya.
Pria kelahiran Benjina, 30 Desember 1999 itu mengungkapkan keputusannya untuk kuliah di Surabaya bermula dari saudaranya yang juga kuliah di Surabaya serta ingin mengupdate ilmu yang dimiliki ke Pulau Jawa.